Minggu, 14 Agustus 2011

Kelompok Belajar


A.      Dasar Psikologis
Pembahasan fungsi jiwa dalam tulisan ini adalah fungsi-fungsi jiwa yang bersifat umum. Hal ini dimaksudkan, bahwa didalam membicarakan  fungsi-fungsi jiwa tidak akan mempermasalahkan fungsi-fungsi psikis secara teliti. Misalnya masalah kepribadian individu, tetapi hanya memandang suatu bentuk umum tentang kelakuan-kelakuan pribadi. Fungsi jiwa berbeda-beda, sehingga kita meninjau fungsi jiwa itu sebagian-sebagian, namun secara keseluruhan dari fungsi jiwa akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, kita sedang melihat suatu keindahan di pagi hari, melihat ini merupakan fungsi jiwa yang bersifat umum. Pada waktu melihat kita mengenal bahan-bahan, proses yang terjadi  tidak akan terlepas dengan soal memikir, mendengar, dan merasa.

B.       Tujuan Kelompok Belajar
Belajar kelompok mempunyai tujuan utama agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama, terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran,  juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau berbicara. Anak-anak ini akan merasa aman jika berbicara dalam kelompok kecil daripada secara klasikal. Melatih anak belajar kelompok, berarti juga menyiapkan anak untuk menjadi dewasa yang bisa bekerjasama dengan orang lain. Dalam kenyataan hidup yang membuat manusia sukses adalah kemampuannya menerapkan kecerdasan untuk bekerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Lebih-lebih dalam masyarakat modern, kemampuan bekerjasama semakin penting dan mutlak dibutuhkan (Schmuck,1985). Sebagai ilustrasi, terwujudnya sebuah gedung yang megah merupakan hasil kerjasama berbagai teknisi ahli. Jika dirumuskan tujuan kelompok belajar adalah:
1.   Meninggikan rasa percaya diri terhadap kemampuan siswa.
2.   Mengembangkan kemampuan siswa dalam bersosialisasi.
3.   Mewujudkan tingkah laku yang lebih efektif.
4.   Meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal.
5.   Meningkatkan prestasi belajar siswa.

C.    Teknik Pembentukan Kelompok Belajar
Ada bebrapa kelebihan belajar dengan kelompok dibandingkan belajar secara individual. Bagi yang kemampuan akademisnya kurang, belajar kelompok berarti ada teman yang bisa membantu. Sedangkan mereka yang kemampuan akademisnya baik, bisa semakin meningkatkan kemampuannya. Selain itu, dengan belajar kelompok, kita juga belajar bersosialisasi, berinteraksi dengan orang lain, mengutarakan pendapat, menyelesaikan konflik dengan teman, serta berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Ide yang kita punya pun bisa menjadi lebih baik setelah mendapat tambahan pendapat dari orang lain. Ada beberapa teknik pembentukan kelompok belajar, diantaranya:
1.       Teknik Pembentukan secara Otoriter, yaitu pembentukan kelompok belajar dengan kebujakan atau kekuasaan guru. Jadi siswa tidak memiliki kewenangan dalam pembentukan kelompok belajar itu.
2.       Teknik pembentukan secara bebas, yaitu teknik pembentukan belajar dengan kewenangan penuh yang diberikan untuk siswa. Jadi guru tidak ikut campur dalam pembentukan kelompok belajar ini.
3.       Teknik Pembentukan secara terpimpin, ini merupakan teknik yang sebaik-baiknya. Teknik ini merupakan perpaduan dari teknik pembentukan secara otoriter dan teknik pembentukan secara bebas. Disamping memperhatikan pendapat-pendapat atau keinginan anak-anak, guru atau pembimbing ikut campur secara aktif didalam proses pembentukan kelompok tersebut.

D.    Prosedur Pembentukan
Dalam pembentukan kelompok belajar ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan, antara lain: tujuan, materi, fasilitas belajar, dan karakteristik siswa. Hal ini dilakukakan untuk keberhasilan pembentukan kelompok belajar agar sesuai dengan tujuan yang diinginkan, baik oleh guru maupun oleh siswa.
- Jika sebuah tujuan atau materi pembelajaran dipandang lebih berhasil dipelajari dalam bentuk kelompok tertentu, maka harus dibentuk kelompok belajar sesuai dengan kebutuhan.
- Jika fasilitas belajar dipandang hanya dapat digunakan oleh kelompok kecil secara bergantian, maka siswa harus dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
- Jika para siswa memiliki karakteristik yang berbeda, seperti dalam minat, kemampuan atau keahlian, umur, maka para siswa harus dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristiknya atau yang lebih mendekati.
Didalam pembentukan kelompok belajar ini perlulah di ambil prosedur sebagai berikut :
  1. Memberikan kuesioner sosiometrik kepada anak-anak mengenai pilihan teman belajar beserta alasan-alasannya mengapa memilih teman tersebut
  2. setelah hasil kuesioner ,asuk, kita buat tabulasi arah pilih anak-anak, untuk mengetahui frekuensi pemilihan anak-anak.
  3. Dari tabulasi arah pilih anak lalu di buat sosigram, untuk mengetahui jaringan interaksi sosial anak di dalam pemilihan kelompok belajar itu.
  4. Mengadakan penyelidikan menganai alasan-alasan yang dikemukakan oleh anak-anak yang mungkin dapat menjadio pertimbangan di dalam pembentukan kelompok itu.
  5. Kelompok kemudian dibentuk dengan memperhatikan hasil-hasil tersebut di atas diperlengkapi dengan hasil-hasil lain yang dapat diperoleh dengan interviu ataupun dengan observasi.

E.     Besarnya  Kelompok
Besar kecilnya kelompok tergantung pada besar-kecilnya kelas dan lancer tidaknya proses belajar. Dalam besar kecilnya kelompok peru diperhatikan pula factor-faktor seperti:
1.      Tempat tinggal anak
2.      Kemampuan di dalam belajarnya
3.      Interaksi social anak
4.      Intelegensi anak
5.      Sifat-sifat lain dari anak (misalnya, sifat kepemimpinan)
Dari jumlah siswanya, besarnya kelompok belajar dapat di golongkan menjadi berikut:
1.   Kelompok besar, dengan jumlah siswa antara 20-40 orang, misalnya komunitas percakapan Bahasa Inggris.
2.   Kelompok kecil, dengan jumlah siswa antara 5-10 orang.
3.   Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja)

F.     Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan dalam bimbingan. Kegiatan diskusi kelompok merupakan kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu individu. Kegiatan diskusi kelompok ini dapat menjadi alternatif dalam membantu memecahkan permasalahan seorang individu.
Moh. Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini tetanam pula tanggung jawab dan harga diri.
Moh. Uzer  Usman (2005:94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.
Berdasarkan pengertian tersebut,maka dapat ditarik kesimpulan bahwa layanan bimbingan kelompok dalam bentuk diskusi kelompok adalah suatu cara atau teknik bimbingan yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbankan pikiran masing-masing serta berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Dalam diskusi kelompok anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan diskusi), menentukan tujuan, dan agenda yang harus ditaati.

G.    Ketua Kelompok
Suatu kelompok diskusi harus ada yang memimpin. Pemimpin dalam kelompok itulah yang disebut “ketua kelompok”. Siapakah yang dapat/pantas menjadi ketua kelompok?  Hal ini tergantung pada beberapa faktor, antara lain:
a.       interaksi sosial
b.      inteligensi
c.       sifat kepemimpinan
Seperti halnya dalam struktur kemasyarakatan pada umumnya seorang pemimpin mempunyai tugas-tugas tertentu, ketua atau pemimpin dalam kelompok belajar ini juga mempunyai tugas tugas yang tertentu pula, antara lain:
  1. Sebagai plan maker atau pembuat rencana.
  2. Sebagai coordinator, yaitu mengkoordinasikan anggota kelompoknya.
  3. Sebagai penghubung antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sekaligus sebagai penghubung dengan guru atau pembimbing.
  4. Memupuk semangat kelompok untuk selalu menghidupkan sifat kegotong-royongan.
  5. Dalam taraf awal, pemimpin kelompok bertugas untuk menyediakan tugas-tugas yang harus dipecahkan atau dipelajari.

H.    Pemeliharaan Kelompok
Kelompok yang sudah terbentuk tentu saja harus dipelihara. Hal inilah yang sering kurang mendapatkan perhatian. Banyak orang mengira bahwa bila kelompok telah terbentuk maka akan berlangsung dengan sendirinya dan akan hidup dengan sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian merupakan pandangan yang salah. Agar suatu kelompok dapat hidup dan berlangsung dengan baik, kelompok itu perlu dipelihara dengan sabaik-baiknya.
Dalam upaya pemeliharaan kelompok, harus dijaga jangan sampai terjadi hal-hal sabagai berikut:
  1. Desintegrasi Kelompok
Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda tanda bahwa para anggotanya sudah tidak memiliki tujuan yang bulat, tidak mempunyai anggota tim kerja yang baik, muncul kontradisi-kontradisi, dan tidak saling mempercayai satu sama lain maka ini merupakan suatu tanda adanya desintegrasi dalam kelompok itu. Keadaan ini dapat meningkat kearah terjadinya kelumpuhan kelompok.
  1. Kelumpuhan Kelompok
Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat suatu dan tidak dapat memberikan hasil, apabila hasil yang baik. Jadi, kelompok sudah lumpuh dan tidak dapat lagi berlangsung. Untuk mencegah jangan sampai timbul gejala-gejala semacam ini, kelompok perlu dipelihara sebaik-baiknya, baik dengan cara preventif maupun korektif sekalipun suatu kelompok itu telah berlangsung baik, ini tidak berarti bahwa kelompok itu telah terlepas dari pemeliharaan. Kelompok yang telah berjalan baik harus diusahakan agar menjadi lebih baik, atau paling tidak agar kebaikan itu dapat dipertahankan, jangan sampai mengalami kemunduran.

Dalam pemeliharaan kelompok, untuk menghindari adanya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok selain ketua kelompok dibutuhkan  pula seorang pembimbing yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Setiap anggota kelompok harus menyadari perannya masing-masing, tidak hanya numpang nama sebagai anggota saja.

I.       USAHA USAHA PERBAIKAN
Jika disintegrasi dan kelumpuhan kelompok telah terjadi maka perlu dilakukan langkah langkah atau usaha usaha untuk memperbaikinya, yaitu dengan cara :
1.      Perbaikan ke dalam
Perbaikan ke dalam merupakan langkah perbaikan dalam kelompok itu sndiri, misalnya : bila pemimpinnya kurang tegas maka pemimpin tersebut perlu diganti. Jadi harus dilihat masalah masalah yang mnyebabkan disintegrasi atau kelumpuhan dari kelompok itu.
2.      Perbaikan ke luar
Kalau kelompok sudah tidak mungkin diperbaiki dari dalam maka perbaikan melangkah ke luar kelompok, misalnya dengan menukarkan anggota kelompok satu dengan yang lain. Jadi, akan ada perubahan susunan dalam kelompok itu. Perbaikan ke luar ditempuh apabila perbaikan ke dalam sudah tidak mungkin lagi di adakan

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates