Senin, 04 Juli 2011

Konselor yang Efektif

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar belakang masalah
Salah satu factor yang kadang dilupakan oleh konselor dalam proses konseling adalah  empathy secara akurat pada konseli, padahal keterampilan ini merupakan kemampuan dasar dan vital, termasuk kemampuan mengenal dalamnya perasaan konseli. Konselor diharapkan mampu melihat perasaan konseli dari sudat pandang konseli daripada sudat pandang konselor. Empathy lebih merupakan menangkap arti dari hidup perasaan konseli daripada menilai atau mendiagnosa konseli. Empathy merasakan kebersamaan dengan hidup konseli secara pribadi dan mendalam. Empathy bukan sekedar hubungan dengan orng lain sebagai obyek yang perlu dianalisa hidupnya atau dimanipulasi, tetapi konselor seharusnya masuk dlam eksistensi hidup pribadi konseli menyelami perasaan konsli dn menangkap artinya
  1. TUJUAN
Tujuan dari mempelajari materi “ konselor yang efektif” ini adalah membantu mahasiswa program Studi Bimbingan dan Konseling memperoleh pengalaman belajar tentang :
1.      Bagaimana menjadi seorang Konselor yang Efektif
2.      Menjadi seorang konselor yang diharapkan dapat berempathy dengan konseli
3.      Bagimana agar proses konseling dapat berjalan dengan efektif sesuai dengan tujuan konseling

BAB II
PEMBHASAN
A.   Proses Konseling
            Proses konseling yang intensional ( mendalam ) dan efektif akan membantu klien untuk berkembang secara optimal. Sebaliknya jika proses konseling berjalan tidak efektif dan kurng mendlam, maka sudah dapat dipastikan akan gagal mencapai tujuan dan bahkan dapat merusak klien.
            Menurut hasil penelitian Hadley dan Stupp ( 1976 )  factor-faktor penyebab yang bisa merusak klien adalah :
1.      Terlalu dalam konselor menggali klien.
Hal ini sampai melampaui batas toleransi. Konselor terlalu dalam menggali diri klien, sehingga cenderung terburu-buru dan menekan pribadi klien. Akibatnya konselor kehilangan informasi kunci atau isu sentral. Sebagai contoh, sering konselor terlalu asyik menggali pribadi klien yaitu tentang usia, situasi kehidupan pribadi seperti seks, factor ras, lingkungan budaya dan sebaginya. Disamping itu konselor terjebak diskusi dengan klien mengenai latar belakang kesulitan klien, menjelaskan nilai-nilai fungsional konseling, menjelajahi tingkat motivasi, dan juga tentang kekuatan ego klien.
2.      Konselor terlalu hati-hati dalam menggali klien.
 Hal ini menyebabkan konselor gagal membuat perubahan diri klien. Karena itu masalah atau isu sentral tak pernah tersinggung oleh konselor.  Kehatia-hatian konselor mungkin karena dia kurang dalam penguasaan teknik atau lemah dalam memahami etika konseling. Mungkin pula kepribadian konselor kurang mantap atau cenderung tidak stabil, jadi tak mampu menggali klien.
3.      Aplikasi teknik.
Sering seorang konselor terlampau percaya diri karena merasa mengetahui banyak mengenai apa saja tentang teknik konseling. Padahal dia sebenarnya kurang terampil menggunakan teknik-teknik konseling. Juga kekurangan pengetahuan atau teori konseling dan tentang klien. Ada lagi seorang konselor mungkin merasa mampu menggunakan teknik yang baik namun kurang tepat dalam menggunakannya terhadap klien.
4.      Hubungan konseling.
Didalam hubungan konseling mungkin saja konselor terlalu banyak atau terlalu sedikit rapport. Tambahan lagi terjadi transferensi dan countertransferensi dimana terjadi suasana emosional pribadi yang kuat antara konselor dank lien. Klien mungkin merasakan konselor sebagi pacarnya atau sebaliknya, atau klien merasakan konselor sebagai ayahnya atau ibunya. Atau sebaliknya menjadi countertransferensi yaitu klien diserang habis-habisan oleh konselor.
 Rerjadinya hal-hal seperti itu disebabkan  :

a.       Kurangnya respek atau penghargaan terhadap klien
b.      Konselor gagal mengarahkan klien untuk memilih     pengalaman
c.       Konselor terlalu bersemangat menyerang self defense klien
d.      Konselor kurang menghargai keberhasilan klien
e.       Egoistik konselor terlalu besar ( kesombongan ilmiah-scientific arrogance )

5.      Masalah komunikasi
Masalah-masalah yang berhubungan dengan komunikasi adalah :
a.       Ketakmampuan konselor untuk berkomunikasi dengan jelas dan tidak mampu Konselormenangkap apa yang dikatakan klien
b.      Konselor gagal mengenali generalisasi dan distorsi ( penyimpangan )
6.      Fokus
Dalam focus terdapat masalah yaitu :
a.       Konselor gagal membuat focus maslah atau mengembangkan isu sentral
a.       Kadang-kadang focus tidak ada atau kebanyakan membuat focus yang sempit dan kaku dengan topic tunggal
b.      Terdapat focus yang ekslusif tentang klien akan tetapi mengabaikan konteks lingkungan dan social-budaya
c.       Hasil wawancara konselor dengan klien meraupakan hasil kekurangan pengertian dan kelemahan struktur konseling
7.      Kelemahan konselor
a.       Konselor terikat pada teori sendiri sehingga gagal melihat pendekatan lain yang mungkin lebih efektif
b.      Kesalahan proses konseling berasal dari perilaku konselor
c.       Penafsiran konselor tidak correct ( tidak cermat ) sehingga tidak mampu merespon perilaku klien yang beragam.
bagaimana keadaan klien saat ini, dan dapat memilih intervensi yang sesuai ( strategi dan teknik ). Untuk menunjang kemampuan dan keterampilan kpnselor perlu kepribadian yang empati. Empati merupakan kunci menjadikan hubungan konseling berkualitas

B.     Empathy
            Empati diartikan oleh Carl Rogers ( 1961) sebagai kemampuan merasakan dunia pribadi klien, merasakan apa yang dirasakanya tanpa kehilangan kesadaran diri. Empati mempunyai subkomponen yaitu : (1) positive regard ( penghargaan diri); ( 2 )respect ( rasa hormat );  warmth  ( kehangatan ), ( 4 ) concreteness ( kekonkritan ), ( 5 ) immediacy ( kesiapan atau kesefgaran ),
( 6 ) confrontation ( konfrontasi ) (7 ) congruence/genuineness ( keaslian ).
            Zimmer ( 1967 ) menjelaskan bahwa konselor yang menggunakan empati cenderung menggunakan attending dimana komponen-komponennya termasuk didlam empati ( kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan ). Empati dekat dengan perilaku attending, paraphrasing, dan refleksi feeling. Bahkan komponen-komponen attending amat besar perannya dalam empati.
            Dengan perkataan lain bahwa jika kita ingin memahami empati secara mendasar haruslah melalui perilaku attending. Sebab dengan perilaku attending maka konselor akan mudah melakukan empati. Dengan adanya empati dan attending maka klien akan terlihat dan terbuka dalam hubungan konseling.
            Menurut Rogers konselor membantu klien dengan sikap empati antara lain :
a.       Dalam hubungan konseling, konselor merasakan hubungan yang sejajar dan terintegrasi dengan klien
b.      Konselor bersikap unconditional positive regard terhadap klien
c.       Komunikasi yang empati dengan klien
Berdasarkan empati yang dikemukakan oleh Rogers, Egan ( 1975 ) mengembangkan dua jenis empati yakni ; (1 ) empati primer ( primary empathy ) yaitu : suatu perasaan bagaimana masuk ke dunia dlam klien merasakan apa yang dirasakanya, dan dengan perilaku attending, ( 2 ) empati tingkat tinggi yang lebih akurat ( advanced accurate empathy ) yaitu : konselor memberi empati yang lebih mendlam dan mengena sehingga pengaruhnya terasa lebih mendlam pada diri klien, dan pada giliranya lebih membangkitkan suasana emosional klien.
            Empati dilaksanakan konselor dengan menggunakan keterampilan mempengaruhi ( influencing skill ) dengan komponen-komponeneya, keterbukaan diri ( self-disclosure ), pengarahan (directive ), dan, penafsiran ( interpretation ). Dengan adanya komponen-komponen itu maka empati akan menjadi mendalam dan akurat serta nilainya tinggi sehingga segera dapat mengubah perilaku klien.
            Dengan empati primer  dan empati tingkat tinggi konselor akan mampu menggali keterbukaan diri klien (  self disclosure ). Hal ini membuat perasaan klien terbuka lalu menyatakan perasaan dengan bebas dan terus bergerak kearah pemahaman dan penyadaran diri. Akibatnya klien menjadi rasional dalam menghadapi masalahnya sehingga melahirkan rencana-rencana yang realistis untuk mengatasinya.
            Carkhuff ( 1989 ) mengemukakan lima tingkat empati. Level 1 – 3 adalah empati untuk menyalurkan perasaan-perasaan negative atau destruktif klien. Level 4 – 5 adalah empati tambahan ( additive empathy ) yang bersifat akurat, mendlam, dan self disclosure yang lebih kuat.
Secara ideal  empati merupakan suatu arus atau aliran antara konselor dank lien, dan kebanyakan merupakan proses bantuan yang diberikan seperti berikut ini  :
1.      Mendengar, memperhatikan dengan penuh hati-hati, teliti terhadap klien dengan menggunakan keterampilan-keterampilan attending dalam berkomunikasi, sehingga klien merasakan bahwa dia didengarkan dan diperhatikan.
Pada level ini konselor menggunakan empati primer dimana respon konselor masih kasar dan belum begitu tajam
2.      Mendengarkan dengan  hati-hati terhadap klien lalu menilai ketepatan komunikasi konselor dengan menggunakan keterampilan mempengaruhi dengan teknik-teknik mengarahkan secara halus dan interpretasi. Jika menggunakan keterampilan-keterampilan tersebut, sehingga dapat menyentuh dunia dlam klien maka empathy konselor meningkat menjadi empathy tingkat tinggi yang akurat. Mengunakan empati tingkat tinggi jika emosi klien begitu mendalam sehingga membutuhkan empati yang tajam dan mendalam.
3.       Konselor mengecek teknik yang digunakan dengan bertanya seperti apakah saya cukup akurat dalam mendengarkan ( keluhan ) anda ? atau bagaimana kedengaranya oleh anda apakah sya benar ? terjadi hubungan konselor-klien yang timbale balik dan jika hubungan itu efektif yakni membuat klien lebih self-disclosed, maka empati konelor makin akurat dan bergerak maju dengan lancer.

Empati amat dekat dengan dimensi-dimensi konselor lainya yaitu, menghargai dengan positif, menghormati, hangat, ketelitian, konfrontasi, kesegaran, dan jujur-asli.
Masing-masing dimensi akan dijelaskan sebagai berikut :

a.       Menghargai dengan positive ( positive Regard )
Dalam upaya membantu klien agar dia berubah, seorang konselor harus percaya bahwa klien itu dapat berubah. Klien mempunyai aspek-aspek positif untuk menunjang perubhan itu. Agarklien berubah, seorang konselor harus meiliki sikap mengahargai dengan positif yaitu :  [perhatian terseleksi terhadp aspek-aspek positif daripada ucapan dan perilaku klien.
Konselor-konselor yang efektif berasumsi sama yakni bahwa klien dapat dibantu dengan modal potensi klien. Jika konselor tk percaya dengan asumsi ini maka klien akan merasakanya dan selanjutnya dia tak dapat dibantu lagi. Rogers percaya bahwa manusia harus dihargai, manusia berpotensi untuk maju, dia positif dan dapat berkembang.
Pengahargaan positif menuntut konselor agar menemukan asset dan kekuatan klien dan terus terang memberikan penghargaan terhadap keunggulan klien. Keunggulan adlah : dunia nyata klien, karena itu harus dipahami konselor
b.      Respect dan Warmeth ( hormat dan hangat )
Konselor yang pura-pura hormat dan hangat yaitu dipermukaan saja mungkin merupakan uangkapan  bawah sadarnya. Keadaan ini tak disukai oleh klieN. Konselor efektif ( intensional ) selalu hangat, senang, dan respek terhadap orang lai. Konselor yang dingin dan kurang respek mepunyai cirri-ciri sebagai berikut : (1) terlalu formal (2) berjarak(3) hormat dibuat-buat (4) kaku, (5)merasa tinggi dn ( 6 ) menyombongkan diri ( 7 ) berlebih-lebihan dalam mengungkap soal seks dan ras, dan ( 8 ) kurang rasa hormat .
Ada beberapa cara positif bagaimana mengkomuniksikan rasa hormat, antara lain dengan cara :
ü  Memperkaya
ü  Menghargai walaupun beda pendapat
Tampaknya rasa hormat dan menghargai dengan positif sangat berdekatan.
            Zimmer dan Anderson ( 1968 ) menyebutkan istilah verbal support sebagai ungkapan verbal untuk mendongkrak kecerdasan dn potensi klien dengan cara empati yang tinggi. Respek atau rasa hormat, penghargaaan positif dan, dan kehangatan, bias berkembng karena adanya dukungan rasa empathy dari konselor sehingga hubungan konseling menjadi terus terang, blak-blakan sehingga mempercepat proses konseling.
c.       Warmth ( rasa hangat )
Pada prinsipnya warmth berhubungan erat dengan empati.  Warmth ( rasa hangat )  dapat didefinisikan sebagi suatu sikap emosional terhadap klien, yang dinyatakan dengan cara-cara non verbal dan didukung dengan verbal. Bentuk-bentuk nonverbal konselor yakni : nada suara, posisi tubuh, gerakan isyarat tubuh, air muka dan sentuhan ( sesuai ( etika moral ). Semua perilaku nonverbal mendukung pernyataan verbal dengan hangat dan akan memberi dorongan pada diri klien. Menurut hsil penelitian Beyes ( 1973 ) senyum dalah salah satu cirri kehangatan yang mempunyai keunggulan tersendiri.
            Menghargai pendapat klien adalah mutlak, walaupun kadang-kadang mungkin saja tidak sesuai dengan nilai-nilai. Namun sebagi konselor yang efektif harus mampu menemukan celah-celah asset atau kekuatan klien sehingga hal inilah yang harus kita kembangkan
d.      Concreteness ( kekonkritan-bersikap konkrit )
Dalam hubungan konseling sering klien datang dengan keluhan-keluhan yang samar-samar ( tidak jelas ), dan kadang-kadang bermakna ganda. Tugas konselor yang intensional atau efektif bergerak dari deskripsi-deskripsi yang samar-samar tentang isu-isu global menuju diskusi yang konkrit, spesifik tentang apa yang telah terjadi dan yang terus terjadi dalam kehidupan keseharian klien
e.       Konfrontasi
Konfrontasi didalam proses konseling didfinisikan yaitu : menunjukan adanya diskrepansi-diskrepansi ( perbedaan )  antara sikap-sikap, pemikiran-pemikiran, atau perilaku-perilaku. Dlam teknik konfrontasi, individu/klien dihadapkan secara langsung dengan fakta, dimana klien mungkin mengatakan lain daripada yang dia maksud atau melakukan yang lain/ berbeda dari apa yang dikatakan. Suatu konfrontasi bukan bermaksud mengatakan bahwa klien itu orang yang salah atau orang yang jelek. Kritik dalam konfrontasi adalah mengemukakan dalam bentuk kata-kata tentang adanya ketaksesuaian dan perbedaan. Klien sering mengungkpakan cerita yang ganda dalam wawancara koneling. Ada bukti bahwa konfrontasi yang terlalu terbuka, keras, tanpa memperhatikan kondisi feeling klien, dapat merusak klien. Tapi ada pula bukti bahwa konfrontasi dapat memberi pertumbuhan klien.
Untuk meningkatkan keampuhan konfrontasi harus diimbangi dengan kualitas-kualitas lain yang mendorong yaitu : empathy, warmth, positive regard, dan respect, serta adanya concreteness dalam strategi konselor.
f.       Genuineness, Congruence, Authenticity, ( keaslian, jujur, otentik )
Dalam hubungan konseling, seorang konselor harus tampil asli, jujur, pribadi yang terintegasi. Dia tampil bebas dan mendalam, dan sadar atas dirinya sendiri. Konselor adalah benar-benar dirinya ( otentik ). Perilaku verbal dan nonverbalnya adlah sesuai dan terintegrasi. Tidak menampilkan facede ( permukaan, pura-pura, palsu ) saja, tidak formal-formalan, tidak menampilkan informasi dengn cara defensive ( menutup-nutupi diri ) dan membuka diri dengan jujur.
Genuine berhubungan erat dengan ketrbukaan diri ( self disclosure ) konselor. Konselor berbagi rasa dan pengalaman dengan klien, yaitu kehidupan nyata yang pernah dialaminya. Namun harus diingat bahwa keterbukaan diri konselor dapat menggangu hubungan konseling manakala dia lupa diri bahwa tujuanya adalah untuk membentuk kepercayaan klien terhadap konselor dan keterbukaan diri klien.
Sering terjadi konselor terlalu banyak bercerita mengenai dirinya, eolah-olah keadaan menjadi terbalik, yakni dia yang menjadi klien dank lien mejadi konselor. Karena itu kadar keterbukaan konselor harus ada batasnya, yakni untuk memancing agar klien membuka dirinya, dan mempercayai konselor seratus persen, sehingga klien akan mengeluarkan semua  perasaan, sikap dan penglamannya terus terng kepad konselor
           

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses konseling yang intensional ( mendalam ) dan efektif akan membantu klien untuk berkembang secara optimal. Sebaliknya jika proses konseling berjalan tidak efektif dan kurng mendalam, maka sudah dapat dipastikan akan gagal mencapai tujuan dan bahkan dapat merusak klien.
Menurut hasil penelitian Hadley dan Stupp ( 1976 )  factor-faktor penyebab yang bisa merusak klien adalah :
a.       Terlalu dalam konselor menggli klien.
b.      Konselor terlalu hati-hati dalam menggali klien.
c.       Aplikasi teknik
d.      Hubungan konseling
e.       Maslah komunikasi
f.       Fokus
g.      Kelemahan konselor
 
Empati diartikan oleh Carl Rogers ( 1961) sebagai kemampuan merasakan dunia pribadi klien, merasakan apa yang dirasakanya tanpa kehilangan kesadaran diri. Empati mempunyai subkomponen yaitu : (1) positive regard ( penghargaan diri); ( 2 )respect ( rasa hormat );  warmth  ( kehangatan ), ( 4 ) concreteness ( kekonkritan ), ( 5 ) immediacy ( kesiapan atau kesefgaran ),
( 6 ) confrontation ( konfrontasi ) (7 ) congruence/genuineness ( keaslian ).
            Zimmer ( 1967 ) menjelaskan bahwa konselor yang menggunakan empati cenderung menggunakan attending dimana komponen-komponennya termasuk didlam empati ( kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan ). Empati dekat dengan perilaku attending, paraphrasing, dan refleksi feeling. Bahkan komponen-komponen attending amat besar perannya dalam empati.
            Dengan perkataan lain bahwa jika kita ingin memahami empati secara mendasar haruslah melalui perilaku attending. Sebab dengan perilaku attending maka konselor akan mudah melakukan empati. Dengan adanya empati dan attending maka klien akan terlihat dan terbuka dalam hubungan konseling.



DAFTAR PUSTAKA
Willis,S. 2007. Konseling Individual Teori dan Praktek, Bandung : Alfabeta


1 komentar:

Anonim mengatakan...

makasi postingan nya :)

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates