Minggu, 14 Agustus 2011

Kelompok Belajar


A.      Dasar Psikologis
Pembahasan fungsi jiwa dalam tulisan ini adalah fungsi-fungsi jiwa yang bersifat umum. Hal ini dimaksudkan, bahwa didalam membicarakan  fungsi-fungsi jiwa tidak akan mempermasalahkan fungsi-fungsi psikis secara teliti. Misalnya masalah kepribadian individu, tetapi hanya memandang suatu bentuk umum tentang kelakuan-kelakuan pribadi. Fungsi jiwa berbeda-beda, sehingga kita meninjau fungsi jiwa itu sebagian-sebagian, namun secara keseluruhan dari fungsi jiwa akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, kita sedang melihat suatu keindahan di pagi hari, melihat ini merupakan fungsi jiwa yang bersifat umum. Pada waktu melihat kita mengenal bahan-bahan, proses yang terjadi  tidak akan terlepas dengan soal memikir, mendengar, dan merasa.

B.       Tujuan Kelompok Belajar
Belajar kelompok mempunyai tujuan utama agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama, terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran,  juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau berbicara. Anak-anak ini akan merasa aman jika berbicara dalam kelompok kecil daripada secara klasikal. Melatih anak belajar kelompok, berarti juga menyiapkan anak untuk menjadi dewasa yang bisa bekerjasama dengan orang lain. Dalam kenyataan hidup yang membuat manusia sukses adalah kemampuannya menerapkan kecerdasan untuk bekerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Lebih-lebih dalam masyarakat modern, kemampuan bekerjasama semakin penting dan mutlak dibutuhkan (Schmuck,1985). Sebagai ilustrasi, terwujudnya sebuah gedung yang megah merupakan hasil kerjasama berbagai teknisi ahli. Jika dirumuskan tujuan kelompok belajar adalah:
1.   Meninggikan rasa percaya diri terhadap kemampuan siswa.
2.   Mengembangkan kemampuan siswa dalam bersosialisasi.
3.   Mewujudkan tingkah laku yang lebih efektif.
4.   Meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal.
5.   Meningkatkan prestasi belajar siswa.

C.    Teknik Pembentukan Kelompok Belajar
Ada bebrapa kelebihan belajar dengan kelompok dibandingkan belajar secara individual. Bagi yang kemampuan akademisnya kurang, belajar kelompok berarti ada teman yang bisa membantu. Sedangkan mereka yang kemampuan akademisnya baik, bisa semakin meningkatkan kemampuannya. Selain itu, dengan belajar kelompok, kita juga belajar bersosialisasi, berinteraksi dengan orang lain, mengutarakan pendapat, menyelesaikan konflik dengan teman, serta berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Ide yang kita punya pun bisa menjadi lebih baik setelah mendapat tambahan pendapat dari orang lain. Ada beberapa teknik pembentukan kelompok belajar, diantaranya:
1.       Teknik Pembentukan secara Otoriter, yaitu pembentukan kelompok belajar dengan kebujakan atau kekuasaan guru. Jadi siswa tidak memiliki kewenangan dalam pembentukan kelompok belajar itu.
2.       Teknik pembentukan secara bebas, yaitu teknik pembentukan belajar dengan kewenangan penuh yang diberikan untuk siswa. Jadi guru tidak ikut campur dalam pembentukan kelompok belajar ini.
3.       Teknik Pembentukan secara terpimpin, ini merupakan teknik yang sebaik-baiknya. Teknik ini merupakan perpaduan dari teknik pembentukan secara otoriter dan teknik pembentukan secara bebas. Disamping memperhatikan pendapat-pendapat atau keinginan anak-anak, guru atau pembimbing ikut campur secara aktif didalam proses pembentukan kelompok tersebut.

D.    Prosedur Pembentukan
Dalam pembentukan kelompok belajar ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan, antara lain: tujuan, materi, fasilitas belajar, dan karakteristik siswa. Hal ini dilakukakan untuk keberhasilan pembentukan kelompok belajar agar sesuai dengan tujuan yang diinginkan, baik oleh guru maupun oleh siswa.
- Jika sebuah tujuan atau materi pembelajaran dipandang lebih berhasil dipelajari dalam bentuk kelompok tertentu, maka harus dibentuk kelompok belajar sesuai dengan kebutuhan.
- Jika fasilitas belajar dipandang hanya dapat digunakan oleh kelompok kecil secara bergantian, maka siswa harus dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
- Jika para siswa memiliki karakteristik yang berbeda, seperti dalam minat, kemampuan atau keahlian, umur, maka para siswa harus dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristiknya atau yang lebih mendekati.
Didalam pembentukan kelompok belajar ini perlulah di ambil prosedur sebagai berikut :
  1. Memberikan kuesioner sosiometrik kepada anak-anak mengenai pilihan teman belajar beserta alasan-alasannya mengapa memilih teman tersebut
  2. setelah hasil kuesioner ,asuk, kita buat tabulasi arah pilih anak-anak, untuk mengetahui frekuensi pemilihan anak-anak.
  3. Dari tabulasi arah pilih anak lalu di buat sosigram, untuk mengetahui jaringan interaksi sosial anak di dalam pemilihan kelompok belajar itu.
  4. Mengadakan penyelidikan menganai alasan-alasan yang dikemukakan oleh anak-anak yang mungkin dapat menjadio pertimbangan di dalam pembentukan kelompok itu.
  5. Kelompok kemudian dibentuk dengan memperhatikan hasil-hasil tersebut di atas diperlengkapi dengan hasil-hasil lain yang dapat diperoleh dengan interviu ataupun dengan observasi.

E.     Besarnya  Kelompok
Besar kecilnya kelompok tergantung pada besar-kecilnya kelas dan lancer tidaknya proses belajar. Dalam besar kecilnya kelompok peru diperhatikan pula factor-faktor seperti:
1.      Tempat tinggal anak
2.      Kemampuan di dalam belajarnya
3.      Interaksi social anak
4.      Intelegensi anak
5.      Sifat-sifat lain dari anak (misalnya, sifat kepemimpinan)
Dari jumlah siswanya, besarnya kelompok belajar dapat di golongkan menjadi berikut:
1.   Kelompok besar, dengan jumlah siswa antara 20-40 orang, misalnya komunitas percakapan Bahasa Inggris.
2.   Kelompok kecil, dengan jumlah siswa antara 5-10 orang.
3.   Kelompok individual, dengan jumlah siswa antara 1-5 orang, misalnya kelompok KIR (Karya Ilmiah Remaja)

F.     Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan dalam bimbingan. Kegiatan diskusi kelompok merupakan kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu individu. Kegiatan diskusi kelompok ini dapat menjadi alternatif dalam membantu memecahkan permasalahan seorang individu.
Moh. Surya (1975:107) mendefinisikan diskusi kelompok merupakan suatu proses bimbingan dimana murid-murid akan mendapatkan suatu kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan masalah bersama. Dalam diskusi ini tetanam pula tanggung jawab dan harga diri.
Moh. Uzer  Usman (2005:94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.
Berdasarkan pengertian tersebut,maka dapat ditarik kesimpulan bahwa layanan bimbingan kelompok dalam bentuk diskusi kelompok adalah suatu cara atau teknik bimbingan yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbankan pikiran masing-masing serta berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Dalam diskusi kelompok anggota kelompok menunjuk moderator (pimpinan diskusi), menentukan tujuan, dan agenda yang harus ditaati.

G.    Ketua Kelompok
Suatu kelompok diskusi harus ada yang memimpin. Pemimpin dalam kelompok itulah yang disebut “ketua kelompok”. Siapakah yang dapat/pantas menjadi ketua kelompok?  Hal ini tergantung pada beberapa faktor, antara lain:
a.       interaksi sosial
b.      inteligensi
c.       sifat kepemimpinan
Seperti halnya dalam struktur kemasyarakatan pada umumnya seorang pemimpin mempunyai tugas-tugas tertentu, ketua atau pemimpin dalam kelompok belajar ini juga mempunyai tugas tugas yang tertentu pula, antara lain:
  1. Sebagai plan maker atau pembuat rencana.
  2. Sebagai coordinator, yaitu mengkoordinasikan anggota kelompoknya.
  3. Sebagai penghubung antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, sekaligus sebagai penghubung dengan guru atau pembimbing.
  4. Memupuk semangat kelompok untuk selalu menghidupkan sifat kegotong-royongan.
  5. Dalam taraf awal, pemimpin kelompok bertugas untuk menyediakan tugas-tugas yang harus dipecahkan atau dipelajari.

H.    Pemeliharaan Kelompok
Kelompok yang sudah terbentuk tentu saja harus dipelihara. Hal inilah yang sering kurang mendapatkan perhatian. Banyak orang mengira bahwa bila kelompok telah terbentuk maka akan berlangsung dengan sendirinya dan akan hidup dengan sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian merupakan pandangan yang salah. Agar suatu kelompok dapat hidup dan berlangsung dengan baik, kelompok itu perlu dipelihara dengan sabaik-baiknya.
Dalam upaya pemeliharaan kelompok, harus dijaga jangan sampai terjadi hal-hal sabagai berikut:
  1. Desintegrasi Kelompok
Apabila dalam suatu kelompok telah ada tanda tanda bahwa para anggotanya sudah tidak memiliki tujuan yang bulat, tidak mempunyai anggota tim kerja yang baik, muncul kontradisi-kontradisi, dan tidak saling mempercayai satu sama lain maka ini merupakan suatu tanda adanya desintegrasi dalam kelompok itu. Keadaan ini dapat meningkat kearah terjadinya kelumpuhan kelompok.
  1. Kelumpuhan Kelompok
Kelumpuhan kelompok terjadi jika kelompok sudah tidak dapat berbuat suatu dan tidak dapat memberikan hasil, apabila hasil yang baik. Jadi, kelompok sudah lumpuh dan tidak dapat lagi berlangsung. Untuk mencegah jangan sampai timbul gejala-gejala semacam ini, kelompok perlu dipelihara sebaik-baiknya, baik dengan cara preventif maupun korektif sekalipun suatu kelompok itu telah berlangsung baik, ini tidak berarti bahwa kelompok itu telah terlepas dari pemeliharaan. Kelompok yang telah berjalan baik harus diusahakan agar menjadi lebih baik, atau paling tidak agar kebaikan itu dapat dipertahankan, jangan sampai mengalami kemunduran.

Dalam pemeliharaan kelompok, untuk menghindari adanya disintegrasi dan kelumpuhan kelompok selain ketua kelompok dibutuhkan  pula seorang pembimbing yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Setiap anggota kelompok harus menyadari perannya masing-masing, tidak hanya numpang nama sebagai anggota saja.

I.       USAHA USAHA PERBAIKAN
Jika disintegrasi dan kelumpuhan kelompok telah terjadi maka perlu dilakukan langkah langkah atau usaha usaha untuk memperbaikinya, yaitu dengan cara :
1.      Perbaikan ke dalam
Perbaikan ke dalam merupakan langkah perbaikan dalam kelompok itu sndiri, misalnya : bila pemimpinnya kurang tegas maka pemimpin tersebut perlu diganti. Jadi harus dilihat masalah masalah yang mnyebabkan disintegrasi atau kelumpuhan dari kelompok itu.
2.      Perbaikan ke luar
Kalau kelompok sudah tidak mungkin diperbaiki dari dalam maka perbaikan melangkah ke luar kelompok, misalnya dengan menukarkan anggota kelompok satu dengan yang lain. Jadi, akan ada perubahan susunan dalam kelompok itu. Perbaikan ke luar ditempuh apabila perbaikan ke dalam sudah tidak mungkin lagi di adakan

Perkembangan Manusia


A.    Konsep Perkembangan
Beberapa ahli menyampaikan pengertian tentang perkembangan seperti Whallley dan Wong dalam Hidayat (2005: 15) menjelaskan perkembangan merupakan bertambah sempurnanya  fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar, perkembangan pada anak dapat terjadi pada perubahan bentuk dan fungsi pematangan organ mulai dari aspek sosial, emosional, dan intelektual.
Soetjiningsih (1995:1) menjelaskan, perkembangan merupakan bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan.
Menurut IDAI (2002), juga dijelaskan bahwa perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, bersifat kualitatif yang pengukurannya lebih sulit dari pertumbuhan.
Depkes (2005: 4), menjelaskan perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

B.       Tahap-tahap Perkembangan
Salah satu aspek pokok dari perkembangan ialah “pertumbuhan” yaitu proses perubahan yang berlangsungnya sejumlah perubahan jasmani pada diri seseorang dengan meningkatkan umur, sampai kejasmanian telah terbentuk sepenuhnya. Pertumbuhan berlangsung sehak saat terjadi pembuahan dan menyumbangkan struktur jasmaniah yang memungkinkan perkembangan mental/psikis, yang meliputi aspek perkembangan kognitif, perkembangan konatif, perkembangan afektif, perkembangan sosial dan perkembangan motorik.
1.      Perkembangan Kognitif
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep  tama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
§  Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
§  Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
§  Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
§  Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
2.      Perkembangan Konatif  
Perkembangan Konatif meliputi penghayatan berbagai kebutuhan, baik biologis maupun psikologis, dan penentuan diri sebagai makhluk yang bebas dan rasional penggerak yang memberikan arah pada beraneka aktivitas. Misalnya, penghayatan akan kebutuhan untuk makan menimbulkan daya penggerak untuk berbuat sesuatu, sehinnga kebutuhan akan makanan dapat dipenuhi.
3.      Perkembangan Afektif
Perkembangan afektif menyangkut pemerkayaan alam perasaan. Kalau anak pada awal mula hanya mengenal perasaan senang atau perasaan tidak senang, lama kelamaan dia akan mengalami berbagai bentuk perasaan yang senang, seperti rasa puas, gembira, kagum; demikian pula perasaan tidak senang akan mengalami berbagai variasi, seperti rasa takut, benci, kesal, marah. Suatu reaksi perasaan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi kehidupan.
4.      Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial menyangkut kemampuan untuk bergaul secara memuaskan dengan seluruh anggota keluarga, semua teman di sekolah serta warga masyarakat.
5.      Perkembangan Motorik
Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.

C.      Tugas-tugas Perkembangan
Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya. Pada setiap fase perkembangan ditandai dengan adanya sejumlah tugas-tugas perkembangan tertentu yang seyogyanya dapat dituntaskan.
Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Havighurst (Abin Syamsuddin Makmun, 2009) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa: “A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task”..
Tugas perkembangan individu bersumber pada faktor–faktor: 
(1) kematangan fisik; 
(2) tuntutan masyarakat secara kultural;
(3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu itu sendiri; dan 
(4) norma-norma agama.

Awas! Kebanyakan Duduk Picu Penyakit Kronis

TRIBUNNEWS.COM - Anda yang memiliki gaya hidup kurang aktif sebaiknya mulai waspada sejak dini. Karena hasil penelitian menunjukkan, gaya hidup kurang aktif atau sedentari dapat meningkatkan risiko mengidap penyakit kronis meskipun Anda telah meluangkan waktu untuk berolahraga.

"Jika orang-orang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, meski telah berolahraga secara rutin, mereka tetap berisiko tinggi terkena penyakit kronis. Jika mereka mau menambah gerakan dalam rutinitasnya sepanjang hari, mereka akan merasa lebih baik dan terhindar dari masalah kesehatan," ujar John Thyfault, asisten profesor nutrisi dan fisiologi dari UniversitasMissouri.
Dalam penelitian terbaru, Thyfault dan timnya menemukan bahwa mereka yang gaya hidupnya berubah dari level aktivitas tinggi (lebih dari 10.000 langkah setiap hari) menjadi tidak aktif (kurang dari 5.000 langkah per hari) berisiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 2.
Menurut Thyfault, aktivitas yang menuntut seseorang jarang duduk seperti tak terlihat pengaruhnya terhadap seseorang. Tetapi, dalam jangka panjang hal itu dapat mencegah kenaikan berat badan.
Dalam sebuah artikel terbaru yang dipublikasikan Journal of Applied Physiology, para peneliti berpendapat, gaya hidup kurang aktif merupakan penyebab utama penyakit kronis, seperti diabetes, obesitas, juga penyakit perlemakan hati. Berolahraga secara teratur pun mungkin belum cukup bagi mereka yang banyak duduk untuk menekan risiko penyakit ini.
Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk dapat memicu risiko kematian.
"Setiap orang harus mencoba mengambil paling tidak 10.000 langkah setiap hari. Tak perlu dilakukan sekaligus, tapi melakukan 500 hingga 1.000 langkah setiap beberapa jam sudah terbilang bagus," ujar Scott Rector, asisten profesor nutrisi dan olahraga fisiologi dari Universitas Missouri.
Perubahan kecil dapat meningkatkan jumlah langkah orang-orang dalam kegiatan rutin mereka.
"Cobalah untuk menggunakan tangga dibanding dengan elevator, berjalan menuju meja teman kantor dibandingkan dengan memanggil mereka, atau meluangkan sedikit waktu untuk Anda sedikit berjalan-jalan sepanjang hari," tambahnya.
http://id.berita.yahoo.com/awas-kebanyakan-duduk-picu-penyakit-kronis-015703857.html

Konsep Bimbingan Konseling Belajar


A.   Konsep Bimbingan Konseling Belajar
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah “Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
Konseling berasal dari bahasa latin consillium berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa anglosaxon istilah konseling berasal dari istilah sellan yang berarti menyerahakan atau menyampaikan. Sebagaimana istilah bimbingan, istilah konseling juga mengalami perkembangan dan perubahan.
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Secara rinci tujuan bimbingan belajar dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau sekelompok anak.
2.      Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran.
3.      Memberikan informasi (saran dan petunjuk) bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
4.      Membuat tugas sekolah dan mempersiapkan diri dalam ulangan dan ujian.
5.      Memilih suatu bidang studi (mayor atau minor) sesuai dengan bakat, minat, kecerdasaan,  cita-cita dan kondisi, fisik atau kesehatannya.
6.      Menunjukkan cara-cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu.
7.      Menentukan pembagian waktu dan perencanaan jadwal belajarnya.
8.      Memilih pelajaran tambahan baik yang berhubungan dengan pelajara disekolah maupun untuk pengembangan bakat dan kariernya dimasa depan.


B.    Prinsip  Efisiensi Dalam Belajar
Belajar merupakan hal yang erat hubungannya dengan prinsip ekonomi. Tegasnya, makin cepat seseorang belajar dengan prestasi yang sama, maka makin baiklah keadaan itu. Dengan demikian pada belajar berlaku hukum efisiensi. Makin cepat seseorang belajar dengan hasil yang sama maka akan semakin baik. Cara belajar yang demikian itulah cara belajar yang baik dan efisien. Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.
Suatu perbuatan dikatakan sebagai proses belajar apabila memenuhi kriteria sebagai berikut, Pertama, perubahan yang terjadi harus bertujuan disengaja atau sadar. Kedua,  perubahan itu bersifat positif ke arah yang lebih baik. Ketiga,  hasil dari pengalaman yaitu interaksi antara individu dengan orang lain atau lingkungan. Sedangkan perubahan yang diakibatkan karena kematangan itu tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Keempat, perubahan itu bersifat efektif.
Di dalam kegiatan belajar terdapat pula prinsip – prinsip dalam belajar. Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar.  Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . beberapa prinsip tersebut diantaranya yaitu:
Pertama prinsip kesiapan, proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan  ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar.
Kedua, prinsip motivasi, motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan.
Ketiga,  prinsip tujuan. Tujuan harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat proses belajar terjadi.
Keempat, proses belajar afektif, seseorang menentukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru.Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap.
Kelima, Proses belajar psikomotor, dalam proses ini individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya.
Keenam,   prinsip evaluasi. Jenis cakupan dan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya. Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan.
Ketujuh,  prinsip persepsi. Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaimana ia memahami situasi. Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu.
Kedelapan, prinsip transfer dan retensi.Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru.
Kesembilan,  prinsip belajar kognitif. Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan atau penemuan. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif.
Belajar juga dikatakan sebagai proses terpadu, ini berarti  bahwa belajar adalah suatu proses yang menyangkut semua aspek yang meliputi aspek fisik, sosial, emosional, intelektual dan moral dapat terlibat secara aktif ketika kegiatan belajar itu sedang berlangsung. Selain belajar juga dikatakan sebagai proses terpadu, belajar juga mempengaruhi proses psikologis belajar anak. Beberapa teori mengenai proses belajar yaitu teori belajar behavioral, teori belajar sosial, teori belajar kognitif, teori perkembangan kognitif dan teori pemrosesan informasi.
Yang termasuk dalam teori belajar behavioral yaitu classical conditioning, operant conditioning, pembentukan kebiasaan dan peniruan. Classical Conditioning merupakan kemampuan menghasilkan respon terhadap stimulus baru berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya secara berulang – ulang. Operant Conditioning merupakan suatu tindakan yang dikendalikan oleh tujuan  untuk mengubah perilaku seseorang. Perbedaan classical conditioning dan operant conditioning adalah operant conditioning selalu lebih baik daripada classical conditioning dalam menjelaskan respon  otomatis, sebaliknya classical conditioning  lebih baik dalam menjelakan respon yang tak otomatis. Stimulus yang menguasai perilaku dalam classical conditioning mendahului perilaku, sementara stimuls yang menguasai perilaku dalam operant conditioning mengikuti perilaku. Misalnya jika kita mengajar suatu trik terhadap ikan lumba-lumba untuk muncul kepermukaan air dan melompeti lingkaran, dalam classical conditioning kita akan menunjukan stimulus bersyarat (seperti suara peluit dan makanan lumba-lumba) sebelum lumba-lumba menunjukan trik. Dalam operant conditioning, kita akan menunjukan stimulus hadiah (makanan lumba-lumba) setelah lumba-lumba tersebut melakukan trik. Pembentukan kebiasaan (habituation) adalah presentasi suatu stimulus yang teejadi berulang-ulang. Peniruan, terjadi ketika seorang anak belajar peilaku baru dengan melihat orang lain bertindak. Misalnya, anak memperhatikan suatu model perilaku tertentu maka ia meniru model perilaku tersebut.
Dalam pendidikan di sekolah, guru dapat mengimplikasikan proses belajar anak terhadap pengembangan kegiatan belajar mengajar. Proses belajar  sebaiknya diorientasikan pada semua aspek individu, kurikulum yang dapat mengembangkan semua bidang pengembangan seperti fisik, emosi, sosial, dan kognitif dan yang lebih penting adalah adanya kejelasan tentang kesesuaian antara isi kurikulum usia dan tingkat kemampuan anak.
Guru hendaknya  melakukan pemantauan secara langsung di kelas maupun di luar kelas untuk menjaga efektivitas pembelajaran. Hal itu dapat memantau siswa sehingga bermanfaat untuk pengembangan program, sehingga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran.
Guru diharapkan selalu siap memposisikan dirinya sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai satu – satunya yang berkuasa di kelas. Dengan peran tersebut siswa tetap asik dalam kegiatan  belajar sehingga mudah dalam memecahkan persoalan dan belajar untuk tidak bergantung pada orang lain. Kesempatan seluas luasnya hendaknya diberikan kepada anak untuk terlibat dalam kegiatan yang melibatkan seluruh aspek bidang studi pengembangan seperti mental, fisik, social dan moral.



C.       Bimbingan Prestasi Belajar dengan Inteligensi
Dalam kehidupan sehari–hari wajar bila mereka yang memiliki intelegensi tinggi diharapkan memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Salah satu definisi intelegensi memang menyebutkan bahwa intelegensi, antara lain merupakan ability to learn atau kemampuan untuk belajar (Weschler, 1958; Freeman, 1962). Begitu juga kemudahan dalam belajar disebabkan oleh tingkat intelegensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan–ikatan syaraf (neural bonds) antara stimulus dan respons yang mendapat penguatan (Thorndike, dalam Wilson, Robeck & Michael, 1974).
Pada umumnya orang berpendapat bahwa intelegensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar. Pada gilirannya akan memberikan hasil yang optimal. Hal ini didukung oleh fakta bahwa lembaga–lembaga pendidikan lebih bersedia menerima calon siswa yang menampakkan indikasi kemampuan intelektual tinggi daripada yang tidak. Fakta lain adalah didirikannya lembaga–lembaga pendidikan khusus bagi mereka yang memiliki hambatan atau kelemahan intelektual.
Belajar, dalam pengertian yang paling umum, adalah setiap perubahan perilaku akibat pengalaman yang diperoleh, atau sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Karena manusia bersifat dinamis dan terbuka terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya dan lingkungan sekitarnya maka proses belajar akan selalu terjadi tanpa henti. Dalam pandangan sebagian ahli psikologi kognitif, proses belajar bahkan terjadi secara otomatis tanpa adanya motivasi.
Dalam pengertian yang lebih khusus, belajar didefinisikan sebagai perolehan pengetahuan dan kecakapan baru. Pengertian inilah yang merupakan tujuan pendidikan formal di sekolah– sekolah atau di lembaga–lembaga pendidikan yang memiliki program terencana, tujuan instruksional yang kongkrit, dan diikuti oleh para siswa sebagai suatu kegiatan yang sistematis. Prestasi atau keberhasilan belajar dinyatakan dalam berbagai indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi, angka kelulusan, prediksi keberhasilan dan semacamnya.
Daniel Goleman (1999) mengemukakan konsep kecerdasan yang dapat mempengaruhi peningkatan prestasi seseorang yaitu kecerdasan emosi (Emotional Intelligence). Menurut Goleman, kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Kecerdasan emosi mencakup kemampuan–kemampuan yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik (academic intelligence), yaitu kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Banyak orang cerdas, dalam arti terpelajar dan memiliki prestasi akademik tetapi kecerdasan emosinya rendah, kerap bekerja sebagi bawahan orang ber-IQ lebih rendah namun unggul dalam kecerdasan emosi.


D.       Faktor-faktor yang harus diperhatikan di dalam Belajar
1.    Faktor Internal
Faktor-faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu, antara lain: 
a. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, keadaan  jasmani. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Kedua, fungsi fisiologis/ jasmani. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar.
b.   Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
Kecerdasan/Inteligensi Siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun, otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ lain, karena fungsi otak adalah sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat inteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar.
Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa dan mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Contohnya, seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya.


Minat
Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, minat memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Untuk membangkitkan minat belajar siswa ada banyak cara yang bisa digunakan. Salah satunya adalah dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan.
Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk memberi reaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative (Syah, 2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran atau lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, guru berperan dan berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang yang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
2.   Faktor Eksternal
Faktor-faktor ekternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu, antara lain:
a.   Faktor Lingkungan Sosial
Meliputi lingkungan sosial sekolah (guru, administrasi, teman-teman sekelas), lingkungan sosial masyarakat (tempat tinggal siswa), Lingkungan sosial keluarga (Ketegangan di dalam keluarga, sifat-sifat orang tua, pengelolaan keluarga). Semuanya itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
b.   Faktor Lingkungan NonSosial
Meliputi faktor lingkungan alamiah (kondisi udara segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sinar yang tidak terlalu silau atau bahkan tidak terlalu gelap, dll ), faktor instrumental (perangkat belajar seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, kurikulum, peraturan sekolah, buku panduan, dll), faktor materi pelajaran (bahan yang akan diajarkan ke siswa, hendaknya sesuai dengan usia perkembangan, metode dan kondisi siswa). Semuanya itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

Template by:

Free Blog Templates