Selasa, 22 Februari 2011

Guru dan Profesi

A. Pengantar
Pendidik adalah profesi, pendidik profesional adalah pendidik yang memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan, tanpa dedikasi tinggi maka kegiatan belajar mengajar tidak berjalan dengan baik.
Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di dalam kelas, maka dapat ditemukan beberapa komponen untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang dapat dinyatakan sebagai struktur dasar dalam kegiatan belajar mengajar, hal ini terkait dengan pendidik sebagai pendidik dan murid sebagai peserta didik yang kedudukannya dapat saja dipisahkan, akan tetapi tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mencapai cita-citanya. Seperti tertuang pada hadis Nabi Khairunnaas anfa’uhum linnaas artinya sebaik baik manusia adalah yang paling besar memberikan manfaat bagi orang lain[1].
Menurut Zakiah Darajat (1992), tidak semua orang dapat melakukan tugas pendidik, tetapi orang-orang tertentu yang memenuhi persyaratan diantaranya : bertakwa, berilmu, sehat jasmani, dan berkelakuan baik[2].





B. Komponen-komponen Kegiatan Belajar Mengajar
1. Prosedur Didaktik
Istilah prosedur didaktik menunjuk pada kegiatan-kegiatan tenaga pendidik dalam mengelola kegiatan belajar mengajar didalam kelas. Banyak literatur  menggunakan istilah “teaching strategi”, “technique”, “method”, dan lain lain. Istilah prosedur didaktik dapat diartikan sebagai perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan oleh tenaga pendidik, yang menyangkut penyajian materi pelajaran, agar siswa dapat mencapai tujuan instruksional tertentu atau dengan cara seefektif mungkin. Tindakan ini dapat ditentukan dalam rangka persiapan pendidikan. Pelaksanaannya saat interaksi antara pendidik dan peserta didik di dalam kelas atau di luar kelas.
Prosedur-prosedur didaktik dapat digolongkan menurut tiga pola, yaitu :
1) Pola Narasi (pengisahan), materi pelajaran disajikan oleh pendidik  dan penyajiannya dipimpin oleh pendidik.
2) Pola Perundingan Bersama,  materi pelajaran dibentuk oleh pendidik bersama siswa, pimpinan dapat dipegang oleh pendidik atau siswa.
3) Pola Pemberian Tugas, siswa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan materi pelajaran, dimana tugas diberikan oleh pendidik.
Khusus untuk pola 2 dan 3, dapat dibentuk kelompok agar terjadi interaksi antara tenaga pendidik dan kelompok siswa atau interaksi antar kelompok.

2. Media Pendidikan
Menurut E. De Corte media pendidikan dapat diartikan sebagai sarana nonpersonal yang digunakan atau disajikan oleh tenaga pendidik yang memegang peranan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan instruksional.
Dalam beberapa pandangan hal-hal yang berhubungan dengan media pendidikan ini dikaitkan dengan teknologi pendidikan, yang pembahasannya meliputi :
a. Penggunaan perangkat elektro mekanis dalam pendidikan, misalnya OHP, VCD, dan LCD Proyektor.
b. Pendidikan melalui media elektro mekanis, misalnya teaching machine  menurut model Skinner dan komputer.
c. Model Pendidikan atau teori pendidikan, dengan menerapkan data hasil penelitian dalam berbagai cabang Psikologi dan mengembangkannya sehingga dapat disebut pendekatan system.
d. Studi ilmiah mengenai penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar (educational technology).

3. Pengelompokan siswa
Dalam kegiatan belajar-mengajar, memungkinkan kerjasama antara pendidik dan kelompok siswa atau antara kelompok siswa yang satu dengan kelompok siswa lainnya. Jika dalam kelas dibagi atas beberapa kelompok yang bekerjasama di dalam atau di luar kelas, maka dapat diikuti tiga pola berikut :
a. Pola bekerja paralel, masing-masing kelompok diberi materi pelajaran atau bahasan yang sama, semua kelompok merundingkan topik yang sama atau mengerjakan hal yang sama. Hasil kajian materi bahasan diberikan dan dibandingkan satu sama lain, selanjutnya ditarik kesimpulan dalam sidang pleno.
b. Pola bekerja komplementer, masing-masing kelompok mendapat tugas yang berbeda, tetapi masing-masing topic merupakan bagian dari keseluruhan mata pelajaran. Melalui laporan yang diberikan masing-masing kelompok, siswa dari kelompok lain juga mendapat materi yang disajikan.
c. Pola campuran paralel dan komplementer, dua kelompok atau lebih mendapat tugas yang sama dan dua kelompok lain atau lebih mendapat tugas lainnya yang berbeda, dan kedua tugas tersebut dapat dikaitkan.

4. Materi Pelajaran
Materi pelajaran (subject matter) harus dibedakan dari isi (content) dalam tujuan instruksional khusus. Materi pelajaran adalah sarana yang digunakan dalam tujuan instruksional, bersama dengan prosedur didaktik dan media pendidikan, materi pelajaran dapat membawa siswa kedalam tujuan instruksional. Materi pelajaran dapat  berupa macam-macam bahan, seperti suatu naskah, persolan, gambar, audio video, dan lain-lainnya.
Misalnya, dalam tujuan instruksional khusus, siswa harus mampu menjelaskan keunggulan dari struktur bangunan candi Borobudur, dengan membuat  gambar dan uraian tertulis sebanyak satu halaman folio.
Dengan demikian jelas, bahwa kriteria pemilihan materi pelajaran berkaitan erat dengan tujuan instruksional, keadaan awal yang aktual dan komponen-komponen lain dalam kegiatan belajar mengajar. Perlu dipilih materi pelajaran yang paling sesuai, baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif, sehingga membantu untuk mencapai tujuan  intruksional seefesien dan seefektif mungkin.






C. Penutup
Kegiatan kegiatan belajar mengajar harus ada interaksi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, sehingga tidak dapat dipisahkan begitu saja, karena keduanya saling membutuhkan, hal ini harus terwujud pendidik yang berkepribadian kuat, sehingga profesionalisme pendidik terbentuk dan diperoleh peserta didik yang berkompeten, karena mampu mengembangkan wawasan-wawasan baru, terkait dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh.
Dalam kegiatan belajar mengajar, pendidik dan peserta didik secara bersama-sama harus memahami dan berusaha untuk mampu mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, karena banyak tuntutan bagi peningkatan mutu pendidikan, penanggulangan kenakalan remaja, dan kelambanan sekolah dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan lapangan pekerjaan. Tuntutan itu ditimpakan ke pundak sekolah dengan para pendidik didalamnya. Permasalahan pendidikan bila mau jujur bukanlah sekedar persoalan belajar mengajar atau didik mendidik semata, namun merupakan rangkaian sebuah manajerial dalam sebuah sistem yang memerlukan sederetan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi khasanah pembelajaran.

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

  • Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
  • Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
  • Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
  • Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Periode sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
  1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
  2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
  6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
  • Universal (tidak terkait budaya)
  • Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
  • Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
  • Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
  • Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif

Proses perkembangan

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

Isu dalam perkembangan kognitif

Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.

Tahapan perkembangan

Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
  • Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu

Natur dan nurtur

Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.


Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan

Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.

Sudut pandang lain

Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu
  •  
    1. Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
    2. Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur
  • Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello
  • Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff

Psychology Education: Pengertian Lupa dan Kejenuhan


            Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
1.      Faktor-faktor Penyebab Lupa
a.       Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Gangguan konflik ini terbagi menjadi dua yaitu:
·        Gangguan proaktif (Proactive interference) yaitu apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Ini terjadi jika siswa mempelajari materi yang mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. (Psychology Education, 2002)
·        Ganguan retroaktif (retroactive interference) yaitu apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa. Jadi materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali, sehingga siswa tersebut lupa. (Psychology Education, 2002)
b.      Lupa dapat terjadi pada seseorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini dapat terjadi karena item informasi yang berupa pengetahuan tanggapan atau kesan dan sebagainya yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya sehingga ke alam ketidaksadaran.
c.       Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Andreson 1990). Jika siswa belajar hanya dengan mengenal melalui keterangan atau gambar saja, maka jika siswa menemui yang telah dipelajarinya, mereka akan lupa.
d.      Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi, jika siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, karena hanya tidak suka dengan gurunya maka materi pelajarannya akan terlupakan.
e.       Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa (Hilgard & Bower 1975)
f.        Lupa tentu saja dapat tejadi karena perubahan urat syaraf otak.

2.      Kiat Mengurangi Lupa
Menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990), kiat untuk mengurangi lupa yaitu :
a.       Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Ini terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan
b.      Extra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktivitas belajar.
c.       Mnemonic device (muslihat memori) berarti kiat khusus yang diterjadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa.
d.      Clustering (pengelompokan) ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip. Misalnya daftar I mengelompokkan daftar nama-nama negara, daftar II singkatan lembaga negara, dan daftar III singkatan nama-nama lembaga internasional.
e.       Distributed practive (latihan terbagi) adalah latihan terkumpul yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming, yakni belajar banyak meteri secara tergesa-gesa dalam waktu yan singkat.
f.        The serial position effect (pengaruh letak bersambung) untuk memperoleh efek yang positif siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah dsb) yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat.

3.      Kejenuhan Belajar
Kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Jadi kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber 1988). Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :
a.       Siswa yang telah kehilangan motivasi dan kehilangan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972).
b.      Kejenuhan dapat juga terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya karena bosan (borring) dan keletihan (fatigue).
Menurut Cross (1974) dalam bukunya The Psycology of Learning, keletihan siswa dapat diketegorikan menjadi : 1) keletihan indra siswa, 2) keletihan fisik siswa, 3) keletihan mental siswa. Keletihan indra dan fisik siswa dapat dihilangkan dengan mudah dengan beristirahat dengan cukup. Tetapi keletihan mental tidak mudah mengatasinya. (Cross, The Psycology of Learning, 1974)
Kiat-kiat untuk mengatasi keletihan mental yang menyebabkan kejenuhan belajar, yaitu :
a.       Melakukan istirahat dan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak.
b.      Pengubahan atau penjadwalan kembal jam-jam dari hari-hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat.
c.       Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa
d.      Memberikan motivasi dan stimulus baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya.
Siswa harus berbuat nyata (tidak menyerah atau tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.


                                                                                         

Kamis, 10 Februari 2011

Valentine's Day


Di hari valentain nanti, rasanya kurang afdol kalau nggak saling memberikan hadiah atau kado spesial, baik untuk sang kekasih/pacar maupun untuk seseorang yang kita sayangi. Namun dalam menentukan hadiah yang cocok buat si doi, sering kali kita bingung. Agar nggak bingung lagi, berikut ini ada beberapa tips memilih hadiah valentine buat kekasih :
1.Mawar. Pilihan pertama adalah mawar. Percayalah.. Seperti yang kamu tahu, nggak ada hadiah lain yang akan membuat seorang wanita lebih terkesan dari pada satu buket mawar untuk hadiah valentine. Karena mawar melambangkan cinta, sehingga cocok banget untuk hadiah di hari kasih sayang ini.
2. Liontin Hati. Kemungkinan lain untuk hadiah yang romantis buat si doi adalah liontin berbentuk hati. Melambangkan kasih sayang kamu untuk dia, jangan kuatir banyak harga ditawarkan yang dapat disesuaikan dengan dompetmu.
3. Cokelat. Coklat merupakan hadiah paling spesial di hari valentine. Banyak yang memakai pilihan coklat ini sebagai kado untuk valentine. Namun kamu bisa membuatnya lebih berkesan buat pacarmu yaitu dengan membungkus coklat tersebut dengan kotak kado berbentuk hati. Apalagi kalau coklat itu buatanmu sendiri. Bisa dibayangkan, apakah ada yang lebih romantis lagi?
4. Parfum. Parfum bisa menjadi penanda hubunganmu, apalagi kalau wangi parfumnya sangat khas. Hanya dikenali oleh kedua pasangan saja.
5. Jam Tangan. Jika pasangan termasuk tipe tepat waktu dan hobi mengkoleksi berbagai model jam tangan. Sebuah jam tangan klasik bisa menjadi hadiah istimewa saat merayakan Valentine bersama pasangan. Tak perlu mahal, melainkan pilihlah jam tangan dengan model klasik yang sulit ditemui. Ketika bertemu dengan pasangan kenakan jam tangan ini di pergelangan tangannya. Katakan pula bahwa Anda selalu ingin bersamanya meski waktu selalu berputar.
6. Syal. Untuk menghangatkan tubuh apalagi  udara dingin belakangan ini, syal merupakan sebuah jawaban yang tepat. Simpan syal yang hendak Anda hadiahkan pada kekasih dalam kotak berbentuk hati yang dihiasi gambar bunga mawar. Agar pasangan semakin kagum pada perhatian Anda, hadiahkan si doi sebuah syal dengan warna favoritnya. Konon hadirnya hadiah ini dapat mencerminkan perhatianmu yang begitu besar padanya. 
Itulah beberapa tips untuk memilih hadiah Valentine buat si doi di hari kasih sayang. Kalau pilihan hadiah valentine diatas masih dianggap kurang, kamu bisa membuat hadiah spesial untuk pasanganmu sesuai ide 
kreativitasmu sendiri. So, apa kamu uda siap dengan rencana Valentine’s Day mu dengan pacarmu

Senin, 03 Januari 2011

Rain (Bi) - Rainism (English Version) Music Video

Minggu, 02 Januari 2011


wwwwooooooooooooyyyyyyyyyyy  ,,,
gua dapet berita dari teman gua yg LARUKU LOVER'S...
ktanya tahun 2011 ini band legendaris LARUKU or L~Arc~En~Ciel akan DATENG KE INDO .............. !!! KKYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA >.<
+jungkir balik abis2san+

tanggal, bulan, harinya blm di pastikan !!!
dy datang ke indo memperingati 20thn LARUKU berdiri !!!
tiket di perkirakan antara 1-4jt/orang !!!
so ..... PLEASE BANGET SEBARIN KE ANK2 YG LARUKU LOVERS, N SMUA ANK2 ANIME YUAHH or taro brita ini di blog lo !! :D
tnx...


===========
english translation
===========

to members of AND, I got news from my friend who Laruku LOVER'S.
he said Laruku legendary band will come to Indonesia in 2011 this.
he came to commemorate 20 years of Laruku stand.
place, day, date not yet be sure.
tickets in the estimate of 1-4 million / person.
so ................ Please spread THIS NEWS TO PEOPLE WHO Laruku LOVER'S AND PEOPLE THAT anime fans!

Thank you.

Jumat, 24 Desember 2010

Top Trending Topic 2010, Super Junior Hanya Kalah Dari Justin Beiber

Pada tahun 2010 twitter begitu booming dan semakin banyak selebriti yang memakai twitter agar bisa berhubungan dan mendekatkan diri dengan para fans. Hal ini membuat interaksi dengan para fans bisa semakin cepat. Para artis tersebut bisa berbagi berita baik pribadi maupun yang berhubungan dengan pekerjaan.

Pada akhir tahun ini twitter merilis report akhir tahunan mereka dan mengungkapkan Top Twitter Topic yang menjadi trend selama 2010.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Marshable 20% dari trending topic selama setahun ini berhubungan dengan dunia entertainment, dan di dalam kategori dunia entertainment tersebut musik meraih 47% dari trend yang paling banyak dibicarakan.
Sementara itu di kategori musik ini Super Junior memperoleh angka yang cukup tinggi yaitu 10 %. Hanya kalah dari satu-satunya rival, yaitu raja twitter dunia Justin Beiber yang mendominasi perolehan trending topik dunia dengan angka 27%. (alk/sjw)

Template by:

Free Blog Templates