Selasa, 14 Juni 2011

Psikologi Individu Gordon Allport

A.  Orientasi Umum
Tiga dasawarsa lampau, kebanyakan pemikir terbaik dalam psikologi berusaha meningkatkan ketepatan dan kuantifikasi menelusuri motif-motif tak sadar sampai ke lapisan dasarnya. Di tengah kecenderungan inilah, Gordon Allport dengan tenang mengikuti jalan pikirannya sendiri, mengemukakan pentingnya penyelidikan kualitatif tentang kasus individual dan menekankan motif sadar. Keengganan Allport untuk mengikuti arus pemikiran kontemporer ini kadang-kadang mengakibatkan perumusan-perumusannya kolot dan ketinggalan jaman. Tetapi dalam kesempatan lain ia tampil sebagai pelopor ide-ide baru dan sangat radikal. Meskipun ia berpandangan kolot, namun ia berhasil mengemukakan sintesis antara pemikiran psikologi tradisional dan teori kepribadian, dengan cara yang mungkin lebih baik dari pada yang pernah dilakukan oleh teoretikus alin di zamannya.
Pandangannya yang sistematis merupakan suatu penyaringan dan perluasan ide-ide yang sebagiannya berasal dari ahli-ahli psikologi seperti Gestalt, William dan Stern, William James, dan William McDougall. Dari teori Gestalt dan Stern munculah penolakannya terhadap teknik-teknik analitik yang lazim dalam ilmu pengetahuan alamiah dan perhatiannya yang mendalam terhadap keunikan individu serta kebulatan tingkah lakunya. Pengaruh James tercermin tidak hanya dalam gaya tulisan Allport, orientasinya yang luas dan relatif  humanistis terhadap tingkah laku, dan perhatiannya pada “aku” (self) tetapi juga dalam keraguannya tentang kemampuan metode-metode psikologi untuk menggambarkan dengan baik dan untuk benar-benar menyingkap teka-teki tingkah laku manusia. Sama seperti McDougall, Allport sangat menekankan pentingnya variabel-variabel motivasi, mengakui pentingnya peranan yang dimainkan oleh faktor-faktor genetik atau konstitusional, dan menggunakan secara mencolok konsep-konsep tentang “ego”. Allport sangat menghargai pesan dari masa lampau dan secara konsisten ia memperlihatkan kesadaran yang penuh dan simpati terhadap masalah-masalah klasik yang digeluti oleh para psikolog di dalam dan di luar laboratorium selama beberapa abad silam.
Gordon Allport sangat tidak sepakat dengan teori S.Freud mengenai manusia. Menurutnya, manusia adalah makhluk rasional, diatur oleh tujuan, harapan sekarang (masa kini) dan masa datang, bukan di masa lalu. Salah satu pendekatan yanng berguna terhadap terhadap pemahaman psikologis Allport mengemukakan tema–tema pokok dari teori kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema–tema itu berbeda dari apa yang didapat pada Freud. Tema–tema tersebut adalah :
a) Allport tidak percaya bahwa orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan–kekuatan tak sadar yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, tidak didorong oleh konflik tak sadar. Begitu pula dengan tingkah laku mereka, tidak ditentukan oleh hal atau kejadian yang ada di jauh dalam pandangan. Kekuatan-kekutan tak sadar itu hanya memepengaruhi orang yang neurotis. Individu yang sehat dan yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing mereka, serta dapat mengontrol kekuatan–kekuatan itu
b) Kepribadian yan matang tidak dikontrol oleh truma dan konflik masa kanak– kanak. Orang yang sehat dibimbing dan diarahkan pada masa sekarang, oleh intensi dan aspirasi – aspirasi masa depan, berpandangan optimis, tidak kembali pada msa lalu.
c) Antara orang yang sehat dan orang neurotis tidak ada kesamaan secara fungsional. Dalam pandangan Allport orang yang neurotis berada pada kehidupan konflik dan pengalaman anak–anak, sedangakan ornag yang sehat befungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebh tinggi.
d) Allport lebih memfokuskan mempelajari orang dewasa yang matang (berlawanan dengan tokoh psikologi yang lain) yang lebih fokus pada orang neurotis. Karena itu dapat dikatakan bahwa sistem dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan.

Perbedaan antara Allport dengan tokoh psikologi sebelumnya, mengantrakan Allport untuk memberikan definisi yang berbeda pula mengenai kepribadian. Menurutnya kepribadian adalah:
”Organisasi dinamik dalam sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaian yang unik dengan lingkungan. Suatu fenomena dinamik yang memiliki elemen psikologik dan fisiologik, berkembang dan berubah, memainkan peran aktif dalam berfungsinya individu”
Istilah organisasi dinamik, mewakili 2 pengertian, aitu kepribadian terus berkembang dan berubah dan dalam diri individu terdapat pusat organisasi yang mewadahi semua komponen kepribadian dan menghubungkan antara satu dengan yang lain, Sedangkan istilah psikofisik menyiratkan bahwa kepribadian bukan hanya sebuah konstruk hipitetik, akan tetapi merupakan fenomena nyata, merangkum elemen mental, neural, disatuakan dengan unitas kepribadian. Istilah determine menegaskan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang mengerjakan sesuatu; tidak hanya konsep yang menjelaskan tingkah laku, tapi bagian dari individu yang berperan aktif dalam tingkah laku orang tersebut

B.     Latar Belakang Riwayat Allport
Ø      Gordon Allport lahir di Indiana, anak bungsu dari 4 bersaudara (lelaki semua).
Ø      Semasa kanak-kanak merasa beda dari orang lain (permainan & minat)
Ø      Setelah SMA mengikuti jalur pendidikan kakaknya Floyd (S1 & S2 Psikologi di Harvard).
Ø      Kakak terkenal di bidang psikologi sosial, Gordon tertarik bidang psikologi kepribadian 
Ø      Pernah berjumpa Freud setelah lulus kuliah S2
Ø      Setelah menyelesaikan PhD mulai belajar kepribadian secara serius → profesor pertama yang mengajar teori kepribadian di college
Ø      Allport dianggap a trait theorist karena dia percaya bahwa tiap individu memiliki sejumlah trait yang mendominasi kepribadiannya (central trait)

C.  Gambaran Mengenai Pendirian Allport
Oleh karena daerah kerjanya yang begitu luas, maka sebenarnya tidaklah mudah untuk menandai sifat-sifat khas dari pendiriannya. Namun hal tersebut dapat juga dilakukan.
Tulisan-tulisannya selalu menunjukkan usaha untuk mementingkan sifat kompleks dan khas (unik) dari pada tingkah laku manusia. Sifat kompleks dan beragam itu mempunyai dasar kebulatan atau kesatuan (unitas). Setidak-tidaknya bagi individu normal, faktor-faktor sadar yang menentukan tingkah laku adalah yang terpenting. Kebulatan tingkah laku dan pentingnya dorongan sadar ini yang menyebabkan Allport mementingkan gejala yang disebutnya self dan ego. Selaras dengan tekanannya terhadap faktor-faktor rasional itu ialah keyakinannya bahwa indidvidu adalah lebih merupakan makhluk masa kini dari pada makhluk masa lampau. Konsepnya tentang “otonomi fungsional” adalah merupakan  usaha yang teliti untuk membebaskan ahli teori atau penyelidik dari sikap menomor satukan  sejarah organisme yang sebenarnya tidak perlu. Secara umum dapat dikatakan, bahwa pandangannya adalah mengenai manusia dimana unsur-unsur dorongnan sadar diutamakan, dan tingkah laku dipandang sebagai hal yang dari dalam selaras dan ditentukan oleh faktor-faktor masa kini.
Bagi Allport tidak ada kontinuitas secara normal dan tak normal; antara anak dan orang dewasa, antara manusia dan hewan. Teori seperti psikoanalisis mungkin sangat berguna untuk tingkah laku yang tak normal, akan tetapi sedikit sekali gunanya untuk menghadapi tingkah laku yang normal. Demikian juga teori-teori yang besar faedahnya bagi tingkah laku anak tidak tepat jika dipakai untuk menghadapi tingkah laku orang dewasa. Allport selalu menentang peminjaman pengertian-pengertian dari bidang-bidang ilmu pengetahuan alamiah. Menurutnya metode penelitian serta susunan (model) teoritis yang terbukti berguna dalam ilmu alam mungkin bisa menyesatkan dalam penelitian tentang tingkah laku manusia yang kompleks itu. Dalam bukunya “Scientific Models and Human Morals” (1947) ia mengemukakan bahwa dengan memakai model mesin, hewan, anak-anak, tidak didapatkan dasar yang cukup kuat untuk menyusun teori yang  bermanfaat mengenai tingkah laku manusia. Selaras dengan ketidaksenangannya terhadap peminjaman ini adalah keyakinannya bahwa pengutamaan yang terlalu pagi terhadap pentingnya operasionisme, yaitu usaha terperinci untuk menentukan operasi-operasi pengukuran yang dituntut oleh setiap konsep empiris, dapat menghambat kemajuan psikologi.
Penerapan metode dan penemuan-penemuan psikologi di dalam situasi nyata, dimana usaha dilakukan untuk memperbaiki keadaan sosial yang tak diinginkan merupakan hal yang sangat dipentingkan oleh Allport. Bertahun-tahun ia menentang pembatasan kegiatan psikologi di dalam dinding-dinding laboratorium, dan karya-karya penelitiannya tentang prasangka dan hubunga-hubungan internasional merupakan contoh penerapan psikologi pada persoalan-persoalan kemasyarakatan (sosial). Sikapnya yang mementingkan sifat-sifat khas serta individualitas tingkah laku manusia menimbulkan pesimisme terhadap kemungkinan yang terdapat dalam metode dan teori psikologi untuk membongkar teka-teki tingkah laku manusia yang kopleks itu.
Allport menyatakan bahwa karyanya terutama ditunjukkan pada masalah-masalah empiris dan tidak untuk mendapatkan suatu kesatuan metodologi dan teori. Baginya kepribadian adalah masalah yang harus dihadapi dengan cara yang sebaik mungkin yang dapat dipergunakan dewasa ini, karena itulah maka ia memperhatikan soal desas-desus, radio, prasangka, kepercayaan, sikap dan lain-lain tentang persoalan manusia. Terhadap soal-soal tersebut dilakukannya pembahasan yang agak eklektis, karena ia hanya ingin mempergunakan mana yang sekitarnya paling baik menurut pengetahuan orang dewasa ini.

D.  Struktur dan Dinamika Kepribadian
Struktur kepribadian ini dinyatakan dalam sifat-sifat (traits) dan tingkah laku juga didorong (dimotivasikan atau digerakkan) oleh sifat-sifat itu. Jadi struktur dan dinamika pada umumnya sama. Sikap eklektis Allport nyata sekali dalam banyak konsepsi (pengertian) yang diterimanya sebagai sesuatu yang berguna untuk memahami tingkah laku manusia. Allport berpendapat bahwa konsep-konsep sempit seperti refleks-refleks khusus, konsep-konsep umum seperti sifat-sifat kardinal atau proprium (aku), penting untuk memahami tingkah laku, dan ia juga malihat proses-proses yang dinyatakan oleh konsep-konsep ini bekerja dalam organisme secara hierarkis, sehingga konsep yang lebih umum biasanya mendahului konsep yang lebih khusus. Dalam pernyataan-pernyataan yang sangat terinci tentang teorinya, Allport mengemukakan bahwa masing-masing konsep berikut ini memiliki kegunaan tertentu: refleks bersyarat, kebiasaan, sifat, aku, dan kepribadian.
Meskipun semua konsep di atas diterima dan dianggap penting, namun tekanan utama teorinya diletakkan pada sifat (traits), sedangkan sikap (attitudes) dan intensi (intentions) diberinya kedudukan yang hampir sama. Karena itu, teori Allport sering kali disebut sebagai psikologi sifat (traits psychology). Dalam teori ini sifat-sifat merupakan konstruk motivasi yang utama. Sifat pada Allport dapat disamakan dengan kebutuhan (need) pada Murray, insting pada Freud, dan sentimen pada McDougall.

1.    Kepribadian, Watak, dan Temperamen
a)      Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya. Pernyataan “Organisasi Dinamik” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah meskipun terdapat  sistem yang mengikat dan menghubungkan berbagai komponen dari kepribadian. Istilah psikofisis menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata mental, tapi juga kerja tubuh dan jiwa dalam kesatuan pribadi. Istilah “psikofisis” menunjukkan bahwa kepribadian mempunyai eksistensi real yang menyangkut segi-segi neural atau segi-segi fisiologis. Organisasi mengisyaratkan beroperasinya badan dan jiwa, berpadu secara tak terisahkan menjadi kesatuan pribadi (1937, hlm 48). Istilah “menentukan” menjelaskan bahwa kepribadian terdiri dari kecenderungan-kecenderungan menentukan yang memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu. Kata “khas” menunjukkan  perbedaan penyesuaian diri seorang dengan individu lain dan tidak ada individu yang mempunyai kepribadian yang sama. “Kepribadian adalah sesuatu dan berbuat sesuatu .... Kepribadian adalah apa yang terletak di balik perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu” (1937, hlm 48).
Kepribadian manusia adalah produk dari hereditas dan lingkungan Hereditas: fisik, inteligensi, temperamen (fluktuasi dan intensitas mood)Faktor hereditas berfungsi sebagai bahan dasar yang nantinya dibentuk (dikuatkan atau dilemahkan) oleh kondisi di lingkungannya. Kepribadian bersifat idiografik (tiap pribadi adalah unik dan tidak dapat dibandingkan dengan orang lain)
Apa yang telah dikatakan hingga kini menjalaskn bahwa bagi Allport kepribadian bukan hanya suatu konstruk dari, pengamat dan bukan juga sesuatu yang ada hanya bila terdapat orang lain yang bereaksi terhadapnya. Jauh dari itu kepribadian mempunyai eksistensi real yang menyangkut segi-segi neural atau segi-segi fisiologis. Ketelitian dan kejituan Allport dalam merumuskan definisinya tetang kepribadian terbukri dari seringnya para teoritikus dan peneliti-peneliti lain meminjam definisi itu.

Contoh Perilaku :
Seseorang memiliki kepribadian yang matang menurut Allport memiliki hal-hal dibawah ini. Berikut contoh perilakunya :
1.    Ekstensi sense of self
Seorang mahasiswa semester akhir yang telah masuk dalam masa dewasa awal, berusaha untuk memperluas “link” agar mereka bisa memperluas pergaulan mereka, sehingga dengan mengenal berbagai macam orang mahasiswa itu belajar ubtuk lebih mengerti minat orang lain dan mengerti minatnya sendiri. Misalnya saja dalam hal pekerjaan yang akan ia geluti nanti. Dengan begitu ia mulai mempunyai rencana masa depan, apa yang ingin ia lakukan demi masa depannya.
2.      Hubungan hangat/akrab dengan orang lain 
Seseorang yang telah masuk ke masa dewasa awal dan madya pasti berusaha mencari kedekatan dengan lawan jenis, itu semua dilakukan untuk membina hubungan dengan orang lain. Seperti mencari pasangan hidup, serta meminta persetujuan keluarga atas pilihannya.
3.      Penerimaan diri
Dalam masa ini emosi seseorang tidak lagi meluap-luap, misalnya saja ia diputus oleh kekasihnya, ia akan lebih bisa mengontrol diri, tidak mudah frustasi dalam menghadapinya.
4.      Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Bila seseorang mengalami masalah, misalnya saja masalah yang cukup besar dikantor, maka ia harus dapat mengatasinya tanpa panik atau malah merusaknya, ia pun sudah bisa memilih mana tugas yang cocok untuknya dan mana yang tidak.
5.      Objektifikasi diri: insight dan humor
Contoh perilakunya adalah empati, kita harus bisa menempatkan diri di posisi orang lain, agar bisa diterima oleh masyarakat, kita tidak menjadi seseorang yang teralu subyektif. Dan juga dalam hidup ini kita butuh hiburan, seperti tv yang berisi acara komedi misalnya, itu tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditertawakan, tetapi lebih agar kita bisa melihat keanekargaman manusia.
6.      Filsafat Hidup
Seseorang yang mulai dewasa, ia pasti telah memiliki patokan dalam hidupnya, misalnya saja pemuda islam, ia pasti telah menaati perintah islam, dan menjadikan itu semua sebagai falsafah hidup maupun pegangan hidupnya.
b)      Watak (karakter)
Meskipun istilah kepribadian dan watak  sering digunakan secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukkan bahwa watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu atas dasar nilai dari perbuatan-perbuatan individu. Jadi dalam menggambarkan watak individu, kata “baik” dan “buruk” seringkali dipakai. Allport berpendapat bahwa watak adalah suatu konsep etis dan menyatakan bahwa “kami lebih suka mendefinisikan watak sebagai kepribadian yang dievaluasi, sedangkan kepribadian adalah watak yang didevaluasi” (character is personality evaluated and personalityin character devaluated. 1961, hlm 32).
c)      Temperamen
Temperamen adalah disposisi yang sangat erat hubungannya dengan faktor-faktor biologis atau fisiologis dan karenanya sedikit sekali mengalami perubahan dalam perkembangan. Peranan keturunan atau dasar disini lebih penting/besar daripada segi-segi kepribadian yang lain. Bagi Allport temperamen adalah bagian khusus dari kepribadian yang diberikan definisi demikian:
“Temperamen adalah gejala kerakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasanan hatinya, fluktuasi dan intensitas suasana hati; gejala ini tergantung pada faktor konstitusional dan karenanya terutama berasal dari keturunan.” (Allport, 1951, p. 54).
2.    Sifat (Trait)
Sifat adalah tendens determinasi atau predisposisi. Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi stimulus dan memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama. Tekanan terhadap individualitas dan kesimpulan bahwa kecenderungan itu tidak hanya terikat pada sejumlah kecil stimulus atau reaksi, melainkan seluruh pribadi manusia. Pernyataan “sistem neuropsikis” menunjukkan jawaban affirmatif yang diberikan oleh Allport terhadap pertanyaan apakah “trait” itu benar-benar ada pada individu. Karakteristik Sifat (Traits):
       Keberadaannya nyata ada dalam diri tiap manusia (tidak hanya teoritis/label)
       Trait menentukan atau menyebabkan perilaku (tidak hanya muncul karena ada stimulus)
       Trait dapat dibuktikan secara empiris (dari perilaku yang menetap)
       Trait tidak terpisah betul satu sama lain (ada overlap)

Berikut perbedaan sifat dengan beberapa pengertian yang lain;
a)      Kebiasaan (habit)
Sifat (trait) dan kebiasaan (habit) kedua-duanya adalah tendens determinasi, akan tetapi sifat lebih umum baik dalam situasi yang disamainya maupun dalam respon yang terdapat di dalamnya.
b)      Sikap (attitude)
Sikap maupun sifat adalah konsep-konsep yang sangat penting dalam psikologi. Sikap juga merupakan predisposisi yang mungkin juga bersifat khas yang bisa memulai atau mengarahkan tingkah laku dan merupakan hasil dari faktor genetik dan belajar. Namun terdapat perbedaan antara keduanya. Pertama, sikap berhubungan dengan suatu objek sedangkan sifat tidak. Jadi, cakupan sifat lebih besar daripada sikap. Namun makin besar jumlah objek, maka sikap akan semakin mirip dengan sifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi sifat selalu umum. Kedua, sikap biasanya mengandung penilaian (menerima atau menolak) terhadap objek tujuannya, sedangkan sifat tidak.
c)      Tipe
Allport membedakan antara sifat dan tipe berdasar sejauh mana keduanya dapat dikenakan pada individu. Seseorang dapat memiliki sutau sifat tetapi tidak dapat memiliki suatu tipe. Tipe adalah konstruksi ideal oleh seorang pengamat dan individu dapat disesuaikan ke dalam tipe-tipe itu dengan konsekuensi diabaikannya sifat-sifat individual. Sifat dapat mencerminkan sifat khas/keunikan pribadi, sedangkan tipe malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport tipe menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang ridak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya/cerminan sejati dari apa yang benar-benar ada.
Tipe menunjukkan perbedaan (buatan) yang tidak selalu cocok dengan kenyataan, trait merupakan refleksi kenyataan yang ada pada individu.  Tipe merangkum ketiga konsep yang lain, menggambarkan kombinasi trait-habit-attitude yang secara teoritik dapat ditemui pada diri seseorang  Misal: siswa yang memiliki tipe introvert, mempunyai trait: pasif-menolak mengikatkan diri dengan lingkungan eksternal (kecenderungan umum), salah satu habitnya adalah duduk di tempat terpisah/menyendiri (kebiasaan khusus di kelas), dan attitude tidak ramah, kurang bisa bergaul (mengandung penilaian) 

Kategori Sifat (Traits):
a. Individual/personal traits/personal dispositions
       Sifat yang konkret, mudah dikenali dan konsisten pada diri seseorang yang dapat menggambarkan karakter asli mereka. Pada kenyataannya tidak ada dua individu yang persis sama sifatnya
b. Common traits/traits:
       Sifat-sifat yang merupakan bagian dari budaya (dapat dipahami dan dimiliki oleh hampir semua orang yang hidup dalam budaya tersebut). Common trait merupakan hasil dari dorongan sosial untuk berperilaku dangan cara tertentu. Contoh: introvert vs extrovert; liberal vs konservatif 

Disposisi Kardinal (sifat pokok), Disposisi Sentral (sifat sentral), dan Disposisi Sekunder (sifat sekunder)
a.  Disposisi Kardinal/pokok: Ini adalah sifat  (sangat dominan) yang menggambarkan hidup mereka karena perilaku individu biasanya terdorong/diatur oleh sifat ini.  Begitu umum sehingga pengaruhnya dapat ditemukan hampir setiap kegiatan individu yang memilikinya. Contoh: Joan Arc (self-sacrifice yang gagah berani), Bunda Teresa  (layanan ibadah),  Machiavelli ( kebengisan politis). Hanya sedikit orang yang mengembangkan cardinal trait, kalaupun ada orang cenderung mengembangkannya di usia paruh baya
b.  Disposisi Sentral: kecenderungan karakter yang kuat, khas/ sering berfungsi/ mudah ditandai pada seseorang, , cenderung digunakan kata sifat yang mencerminkan central trait ini, misal:pandai, bodoh, liar, pemalu, culas, lamban.
c.  Disposisi Sekunder: Berfungsi terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian dan lebih terpusat pada respon yang dicocokinya. Sifat yang tidak terlalu jelas, tidak terlalu umum/tidak terlalu konsisten seperti  pilihan, sikap, sifat yang situational. Contoh: C mudah marah jika ada orang yang mencoba menggelitik dia

SIFAT-SIFAT EKSPRESIF
Sifat-sifat ekspresif ini merupakan disposisi yang memberi warna atau mempengaruhi bentuk tingkah laku, tetapi tidak mempunyai sifat mendorong. Contoh sifat-sifat ekspresif ini ialah melagak, ulet, dan sebagainya.

KEBEBASAN SIFAT-SIFAT
Allport berpendapat bahwa sifat dapat ditandai bukan oleh sifat bebasnya yang kaku tapi terutama oleh kualitas memusatnya. Jadi sifat cenderung untuk mempunyai pusat dan disekitar itu pengaruhnya berfungsi. Kebebasan sifat-sifat umum yang didefinisikan secara sekehendak merupakan salah satu dari kelemahannya sebagai representasi yang tepat daripada tingkah laku.

INTENSI
Intensi lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau, penyelidikan ini mengenai keinginan individu di masa depannya. Istilah intensi digunakan dalam arti meliputi pengertian: harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, atau cita-cita seseorang. Teori Allport menunjukkan bahwa apa yang akan dilakukan seseorang merupakan kunci dan hal yang terpenting bagi apa yang dikerjakannya sekarang.

PROPRIUM
Proprium adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan self/ego. Proprium menggambarkan ego sebagai sesuatu yang dengan segera dapat kita sadari meliputi perasaan jasmaniah, identitas diri, harga diri, rasa keakuan, gambaran diri. Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang karena perkembangan individu. Allport menghindari ego sebagai penggerak utama kepribadian.
Self bukan bagian terpisah dari kepribadian, bukan mengatur, mengorganisir, menjalankan sistem kepribadian. Allport menggunakan kata proprium daripada self karena lebih mudah dipahami sebagai sifat atau fungsi kepribadian secara umum.

OTONOMI FUNGSIONAL
Otonomi fungsional memandang motivasi dewasa bermacam-macam, sistem self sustaining, pertumbuhan sistem antecedent, tapi secara fungsional tak terkait. Otonomi fungsional juga pendorong dan pembentukan perilaku masa kini dan lepas lepas dari masa lalu. Apa yang dilakukannya semata-mata dikhususkan begitu saja demi tujuan berbeda dari semula. Contoh: Seorang pemburu tetap saja akan memburu meskipun tidak ada nilai instrumentalnya (semata-mata senang berburu).
Perseverative Otonomi Fungsional : meliputi bentuk-bentuk kecanduan, mekanisme sirkular, perbuatan yang diulang-ulang atau secara rutin. Orang dewasa yang sehat ditandai dengan serangkaian sifat yang teratur dan kongruen yang berfungsi sebagaian besar secara rasional dan sadar. Maka untuk memahami orang dewasa maka harus memahami maksud dan aspirasi mereka. Contoh : Tindakan seorang anak yang mengoceh berulang-ulang, tugas yang belum selesai mendapat interupsi dan cenderung diingat dari pada tugas yang selesai.
Propriate Otonomi Fungsional : meliputi minat-minat yang dipelajari, nilai-nilai, sentimen-sentimen, motif-motif pokok, disposisi pribadi, gambaran diri dan gaya hidup. Manusia selalu dalam proeses untuk menjadi lebih integral dan daya penyatiu yang paling penting adalah propriate function, dimana usaha mengejar tujuan yang membentuk kepribadian. Contoh : Seseorang yang ingin menjadi dokter bukanlah merupakan sifat bawaan atau karena diperlukan tapi belajar untuk hidup.
Sampai di sini sudah di bicarakan konsepsi-konsepsi pokok yang di pergunakan Allport untuk menggambarkan kepribadian, dan telah di bicarakan pula apa yang bagi dia merupakan faktor pendorong di dalam individu. Tetapi apa yang telah di kemukakan itu masih jauh dari lengkap. Terutama yang belum di persoalkan ialah kekinian  dari pada dorongan  (the contemporary of motivation).
Telah di sebutkan individu itu menjangkau kemasa depan dan tujuan-tujuanya merupakan faktor yang menentukan yang penting bagi tingkah lakunya kini. Tetapi dalam pada itu telah di nyatakan  pula bahwa sifat-sifat (traits) itu di pelajari, jadi sifat-sifat itu timbul di dalam memaikan peranan penting dalam menentukan apakah yang akan dikerjakan kini? Selanjutnya apakah sifat-sifat itu berbeda  dari dorongan-dorongan yang lain  yang berkembang dari nafsu-nafsu primitif dan vegetative?
Bagi Allport, jawaban terhadap pernyataan-pernyataan tersebut ialah “ya”. Kunci dari adanya perbedaan itu terdapat dalam prinsip otnomi fungsional (functional autonomy). Pengertian yang dikemukakan Allport ini sangat  terkenal, tetapi sangat banyak dipertentangkan banyak orang.
Pada pokok prinsip itu menyatakan, bahwa aktivitas tertentuatau bentuk tingkah laku tertentu dapat menjadi akhir atau tujuan sendiri walaupun dalam kenyataanya mula-mula terjadi karena sesuatu alasan lain. Tiap tingkah laku sederhana atau kompleks, walaupun mula-muladiasalkan dari tegangan organis, dapat terus berlangsung dengan sendirinya tanpa adanya faktor biologis yang memperkutnya lagi (tanpa biological reinforcement).
Dalam pada itu perlu di ingat bahwa otonomi fungsional berbeda dari pengertian umum bahwa sesutau tingkah laku itu, misalnya mula-mula pemburu itu berburu untuk mencari makan, kalau ini sudah terpenuhi dia berburu untuk mentatakan dasar agresinya.
Perumusan ini masih mengembalikan tingkah laku itu pada alas an primitif, atau yang di bawa sejak lahir. Otonomi fungsional menyatakan bahwa pemburu akan tetap berburu walaupun tidak ada arti instrumentalnya artinya tanpa adanya dorongan agresi atau kebutuhan-kebutuhan yang lebih dari itu yang mendasari perbuatan itu. Jadi dapat terjadi pemburu itu berburu karena suka berburu. Dan hal inilah yang dihindari.
Dalam menngemukakan pendapatnya ini. Allport menunjukan bahwa pendapatnya itu ada kesamaanya dengan perumusan-perumusan yang diberikan oleh ahli-ahli yang lebih dahulu :
a)      W. James :   Dengan apa yang di sebut dalil: “the transitoriness of instinct”.
Menurut teori ini instink itu hanya Nampak sekali selama hidup, setelah itu hilang dan atas dasar instink itu terbentuklah kebiasaan-kebiasaan (habits). Dasar ini di setujui oleh Allport karena menurut Allport, “the psychology of personality must be a psychology of post instinctive behavior” (Allport, 1951,p.194-195)
b)      Woodworth :   yang dalam bukunya Dynamic psychology (1918) menyatakan adanya transformasi dari mekanisme ke dorongan.
c)      Stern :  yang dalam Allgemeine Psychologie (1935) menyatakan adanya transformasi  dari Phaenomotiv ke Genomotif.
d)      Tolman : yang dalam bukunya Psychology versus immediate  experience (1935) menyatakan bahwa “means obyect my set up in their own right”  (Tolman,1935,p.370).
Dalam memberi alasan kepada konsepsinya itu Allport menunjukan kepada observasi di berbagai bidang yang kesemuanya menunjukan adanya kecendrungan pada organisme untuk tetap pada response, walaupun alasan  yang menimbulkan response itu tidak lagi ada.
a)      Refleks sirkuler (the secular reflex)
Banyak tingkah laku anak-anak yang di ulang-ulang terus, dengan tidak henti-hentinya mengoceh dan permainan-permainan pada taraf permulaan;perbuatan-perbuatan yang selalu di ulang-ulang ini umumnya di beri nama “reflex sikulasi”.  Menurut Allport, untuk melakukan perbuatan itu tidak membutuhkan dorongan-dorongan yang pokok (asli).  Perbuatan itu sendiri berlansung sampai dihambatoleh perbuatan yang baru atau sampai lelah.
b)      Conative perseveration
Tugas yang mendapat interupsi cenderung untuk lebih di ingat dari pada tugas yang telah selesai. Penyelesaian tugas itu sendiri merupakan quasi need yang punya kekuatan dinamis.
c)      Refleks bersyarat tanpa “reinforcement”
Refleks bersyaratnya, apabila perangsang bersyaratnya tidak di sertai reimforcementakan hilang. Tetapi dalam kehidupan banyak hal-hal yang hanya terjadi sekali (jadi tanpa reinforcement), namun tetap pengaruhnya pada tingkah laku, misalnya pengalaman traumatisyang tetap mempengaruhi kehidupan jiwa.
d)      Hasil penyelidikan ilmu perbandingan psikologi :
Penyelelidikan Olson (1929) menunjukan apabila collodium (campuran pyroxylin dan aether dan alkhohol----- 40:750:250) di masukan dalam telinga kelinci-kelinci, maka kelinci-kelinci itu akan mencakar-cakar terus-menerus untuk menghilangkan barang asing di telinganya itu. Selanjutnya, setelah  collodium tidak ada lagi (hilang) dan tidak ada bekas-bekasnya, maka kelinci masih tetap mencakar-cakar itu bermula sebagai usaha fungsional untuk mempertahankan keadaan jasmani, tetapi karena ulangan-ulangan yang berturut-turut, nampaknya menjadi bagian-bagian yang integral dari pada tingkah laku hewan, walaupun fungsi biologisnyatidak lagi ada.
e)      Neurosis :
Tics, peservasi seksual, phobia, sering sangat melekat kepada pribadi  manusia, sehingga sukar sekali di sembuhkan. Bahkan psikoanalisispun sering kali tak dapat  memberikan penyembuhan yang  sempurna. Mengapa ? Menurut Allport apa yang biasa di sebut symptom itu sebenarnya lebih dari itu. Tics dan sebagainya  itu lalu merupakan semacam dorongan  tersendiri.
f)        Hubungan antara kemungkinan dan minat yang timbul karena pengalaman.
Seorang mahasiswa mungkin masuk universitas dengan cabang pengetahuan tertentu karena menyenangkan orang tuanya, atau ingin mendapat pujian. Tetapi lama-kelamaan tanpa alasan itu dia akan memperjuangkan  bidang ilmiahnya.

E.   Perkembangan Kepribadian
Melihat teori otonomi fungsional itu nyatalah bahwa individu dari lahir itu mengalami perubahan-perubahan yang penting. Sampai sekarang kita telah melihat unsur-unsur yang membentuk kepribadian dan meninjau secara garis besar disposisi-disposisi yang mengerakkan tingkah laku. Dalam bagian ini kita akan membahas cara struktur-struktur ini muncul dan perbedaan-perbedaan cara individu menampilkan diri dalam berbagai tingkat perkembangan.
1.      Bayi (Neonatus)
Allport memandang neonates (bayi baru lahir) sebagai makhluk yang eksistensinya nyaris semata-mata berupa hereditas, dorongan primitive dan refleks. Neonates belum memiliki sifat-sifat khusus yang baru muncul kemudian sebagai akibat dari transaksi-transaksi dengan lingkungan. Neonatus belum memiliki kepribadian. Pada waktu lahir ini anak memiliki potensi-potensi baik fisik maupun temperament, yang aktualisasinya tergantung kepada perkembangan dan kematangan, kecuali itu neonates telah memiliki reflex-refleks tertentu (menghisap,menelan) serta melakukan gerakan-gerakan yang masih belum terdeferensiasikan, dimana semua gerakan otot-otot itu ikut di gerakan.
Seorang anak  sebagian besar merupakan  makhluk yang terdiri atas tegangan-tegangan segmental dan perasaan-perasaan mikmat – sakit atau enak- tidak enak. Teori biologis tentang tingkah laku yang bersandar pada hadiah atau hukuman sangat cocok pada tahap awal kehidupan. Pada tahun berikutnya, seorang bayi mulai memperlihatkan kualitas-kualitas tertentu, misalnya perbadaan-perbedaan gerakan dan ekspresi emosional yang cenderung menetap atau lebur menjadi cara-cara penyesuaian yang lebih matang. Pertumbuhan itu bagi Allport merupakan proses diferensiasi dan interegasi yang berlangsung terus-menerus. Allport menyimpulkan, bahwa setidak-tidaknya pada tahap kedua tahun pertama anak telah menunjukan dengan pasti sifat-sifat yang khas.

2.      Transformasi Kanak-kanak   
Dalam Perkembangan Proprium Allport membagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:
0-3 tahun :
Pembanguanan keadaran diri : sense of bodily self (enak tidak enak), perasaan identitas diri berkelanjutan kesadaran sebagai subjek yang berkembang. Dalam hal ini bahasa menjadi faktor yang penting. Harga diri atau kebanggaan sebagai periode terakhir dimanan\ anak ingin melakukan sesuatu, membuatnya terwujud, dan mengontrol dunianya.
4-6 tahun:
Perluasan diri dan gambaran diri. Dalam perluasan diri, perasaan keterhubungan dengan orang-orang dan hal-hal yang penting dalam lingkungannya. Relasi anak dan lingkungan tempat dia tumbuh terhubung sangat penting. Muncul perasaan lingkuangan tersebut adalah bagian dirinya. Gambaran diri; terkait dengan penanaman-penanaman nilai, tangung jawab moral, intensi, tujuan dan pengetahuan diri yang akan berperan mencolok dalam kepribbadiannya kelak.
6-12 tahun:
Kesadaran diri. Pengenalan kemampunan diri mengatasi persoalan-persoalan dengan alasan dan gagasan karena anak bergerak dari lingkungan keluarga ke masyarakat.
Remaja
Propriate striving, pembanguanan tujuan dan rencana ke depan: intensi-intensi, long-range purposes,distant goals.Persoalan utama berkaitan dengan identitas, ”apakah saya seorang anak atau dewasa?”
Perkembangan itu melewati garis-garis yang berganda. Bermacam-macam mekanisme atau prinsip di pakai untuk membuat deskripsi mengenai perubahan-perubahan dari kanak-kanak sampai dewasa itu :
1.      Diferensiasi
2.      Intregasi
3.      Pemasakan (maturation)
4.      “belajar”
5.      Kesadaran diri (self-consciousness)
6.      Sugesti
7.      Self-estem
8.      Infieority, dan kompensasi
9.      Mekanisme-mekanisme psikoanalitis
10.  Otonomi fungsional
11.  Reorientasi mendadak trauma
12.  Extension of self
13.  Self-obyektification,instink dam humor
14.  Pandangan hidup pribadi (personal weltanschauung)

Dia mempersoalkan diferensiasi, intregasi pematangan (maturation), imitasi belajar otonomi fungsional dan ekstensi self. Bahkan di menerima keterangan psykoanalitis, walaupun dia mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak punya kedudukan teoretis yang pokok bagi kepribadian yang normal. Jadi, menurut Allport manusia itu yang pada lahirnya adalah mahluk biologis berubah/berkembang menjadi individu yang egonya selalu berkembang, struktur sifat-sifatnya meluas dan merupakan inti dari tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi masa depan. Di dalam perkembangan ini tentu saja peranan yang menentukan ada pada otonomi fungsional. Prinsip ini menjelaskan apa yang mula-mula alat untuk tujuan biologis dapat menjadi motif yang otonom yang mendorong dan member arah tingkah laku. Jika di tinjau secara luas, teori Allport ini seakan-akan dua teori kepribadian. Yang satu ialah yang biologistis yang cocok untuk anak yang baru lahir, dan yang lama (dengan perkembangan kesadaran) makin kurang memadai, dan pada masa ini harus di adakan reorientasi kalau-kalau kita menghendaki representasi individu yang memadai.

3.      Orang Dewasa
Pada orang dewasa faktor-faktor yang menentukan tingkah laku adalah sifat-sifat (traits) yang terorganisasikan dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional . Sifat-sifat ini timbul dalam berbagai cara dari perlengkapan-perlengkapan yang dimiliki neonatus. Bagai jalan perkembangan ini yang sebenarnya  bagi Allport tidaklah penting ; yang penting ialah yang ada kini, sebagai mana kata Allport : “what drives behavior, drives now and we need not know the history of the drive in order to understand its operations”. Sampai pada batas-batas tertentu berfungsinya sifat-sifat itu di sadari dan rasional. Biasanya individu yang normal mengerti/menyadari apa yang di kerjakannya dan mengapa itu dikerjakannya. Untuk memahami manusia dewasa tidak dapat dilakukan tanpa mengerti tujuan-tujuan serta aspirasi-aspirasnya. Motif-motifnya terutama tdak berkar di masa lampau  (echo dari masa lampau) tetapi bersandar pada masa depan .
Pada umumnya orang akan lebih tahu akan apa yang akan/hendak dikerjakan seseorang, kalau di tau rencana-rencana yang di sadarinya dari pada ingatan-ingatan yang tertentu.
Dalam pada itu harus di ingat, bahwa orang dewasa yang diceritakan di atas itu adalah yang ideal. Dalam kenyataanya tidak selalu demikian, banyak orang tak mempunyai kematangan/kedewasaan penuh.
Menurut Allport pribadi yang telah dewasa (kualitas kepribadian yang matang) itu pada pokoknya harus memiliki hal-hal yang tersebut dibawah ini:
1.      Extension of self
Yaitu bahwa hidupnya tidak harus terikat secara sempit kepada kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan serta kewajiban-kewajiban yang langsung.dia harus dapat mengambil bagian dan menikmati bermacam-macam kegiatan. Suatu hal yang penting dari pada extension of the self itu ialah proyeksi ke masa depan : merecanakan, mengharapkan (planning,hoping).
§         Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas. Contoh : terlibat dalam kegiatan masyarakat (senat, karang taruna, partai politik,dll)
§         Kemampuan diri dan minat-minatnya denga orang lain beserta minat mereka. Contoh: Saya yang punya minat dalam olah raga juga mengenali minat oprang lain yang sama atau pun berbeda.
§           Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana). Contoh: Keinginan jadi dokter, membuat perencanaan strudi dan membayangkan apa yang mau dilakuakn setelah jadi dokter.
2.      Objektifikasi diri (Self-objectifation)
Ada dua komponen pokok dalam hal ini, ialah humor dan insight
a)      Insight
Apa yang dimaksud insight disini ialah kecakapan individu untuk mengerti dirinya. Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain.
b)      Humor
Yang di maksud dengan humor disini tidak berarti kecakapan untuk mendapatkan kesenangan dan hal yang menertawakan saja, melainkan juga kecakapan untuh mempertahankan hubungan positif dengan dirinya  sendiri dan obyek-obyek yang di senangi, serta menyadari adanya ketidakselarasan dalam hal ini. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
3.      Filsafat hidup (weltanschauung,philosophy of life)
Walaupun individu itu harus dapat obyektif dan bahkan dapat menikmati kejadian-kejadian dalam kehidupanya, namun mestilah ada ada latar belakang, makna dan tujuan yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakanya, yang memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting dalam hal ini.

Daftar Pustaka  
1.      Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
2.      Suryabrata, Sumardi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV Rajawali, 1983.

Pemahaman Konselor Terhadap Nilai Norma Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                            
A. Latar Belakang
Dalam layanan bimbingan konseling terdapat landasan yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Landasan ini berfungi sebagai fondasi dalam layanan bimbingan konseling, seperti sebuah bangunan yang memiliki fondasi agar berdiri tegak dan kokoh.
Terdapat lima landasan, dan diantaranya adalah landasan sosial budaya yang membahas pengaruh sosial budaya terhadap individu, hambatan-hambatan komunikasi dan penyesuaian diri sebagai dampak perbedaan antar budaya serta pengaruh perbedaan antar budaya itu terhadap layanan bimbingan dan konseling.
Maka dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pemahaman seorang konselor terhadap pendidikan sosial dan budaya yang erat hubungannya dengan landasan sosial budaya yang terdapat dalam layanan bimbingan koseling itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pendidikan budaya?
2. Bagaimana bentuk budaya yang ada di sekolah?
3. Bagaimana pemahaman individu terhadap nilai norma sosial?
4. Bagaimana pemahaman seorang konselor terhadap nilai norma sosial?

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pemahaman seorang konselor terhadap pendidikan sosial dan budaya.



BAB II
PEMBAHASAN


A. Pendidikan Budaya
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. 
Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan anak didik. Pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat.
Kelakuan manusia pada hakekatnya hampir seluruhnya bersifat sosial, yakni dipelajari dalam interaksi dengan manusia lainnya. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan, dan sebagainya. Hubungan antara individu itu bukan sepihak, melainkan timbal balik. Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara, akan tetapi individu juga mempengaruhi kebudayaan sehingga terjadi perubahan sosial. Latihan yang diterima oleh anggota baru tentang cara-cara hidup suatu masyarakat berkat interaksi dengan lingkungannya disebut pengaruh kebudayaan atas individu.
Kebudayaan dipandang sebagai cara-cara mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Ada masalah yang universal seperti memenuhi  kebutuhan biologis. Namun tiap masyarakat memilih cara yang dianggap paling sesuai sehingga tidak ada dua masyarakat yang sama kebudayaannya.
Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan.
Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. 
Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.

B. Budaya yang ada di Sekolah
Sistem pendidikan mengembangkan pola kelakuan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dari murid-murid. Kehidupan di sekolah serta norma-norma yang berlaku dapat disebut kebudayaan sekolah. Walaupun kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai sesuatu “sub-culture”. Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan karena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum. Akan tetapi di sekolah itu sendiri timbul pola-pola kelakuan tertentu. Ini mungkin karena sekolah mempunyai kedudukan yang agak terpisah dari arus umum kebudayaan.
Dalam sub-kebudayaan sekolah juga terjadi oleh sebab sebagian yang cukup besar dari waktu murid terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi ini dapat berkembang pola kelakuan khas anak muda yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah ialah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, keterampilan yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu.
Dalam melaksanakan kurikulum berkembang sejumlah pola kelakuan yang khas bagi sekolah yang berbeda dengan yang terdapat pada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Tiap kebudayaan mengandung bentuk kelakuan yang diharapkan  dari anggotanya. Di sekolah diharapkan bentuk kelakuan tertentu dari semua murid dan guru. Itulah yang menjadi norma bagi setiap murid dan guru. Norma ini nyata dalam interaksi guru dan murid, dalam peraturan-peraturan sekolah, dalam tindakan dan hukuman terhadap pelanggaran, juga dalam berbagai kegiatan seperti upacara-upacara. Jadi budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Adapun nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang harus diintegrasikan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komuniktif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung-jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebuah budaya sekolah yang berlangsung di sebuah sekolah bisa saja diterapkan di sekolah lain, sebaliknya tidak semua hal yang menjadi budaya di sebuah sekolah bisa diaplikasikan disekolah lain. Sebuah budaya sekolah yang bisa dirasakan oleh individu yang ada didalamnya akan menjelma menjadi iklim sekolah yang melingkupi dan menjadi dasar pijakan pengembangan sekolah.



C. Pemahaman Individu Terhadap Nilai Norma Sosial
1. Nilai Sosial
Satu bagian penting dari kebudayaan atau suatu masyarakat adalah nilai sosial. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti secara moral diterima, kalau tindakan tersebut harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan.  Dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kasalehan beribadah, maka apabila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan, cercaan, celaan, cemoohan, atau bahkan makian.  Sebaliknya, kepada orang-orang yang rajin beribadah, dermawan, dan seterusnya, akan dinilai sebagai orang yang pantas, layak, atau bahkan harus dihormati dan diteladani.
Dalam Kamus Sosiologi yang disusun oleh Soerjono Soekanto disebutkan bahwa nilai (value) adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Horton dan Hunt (1987) menyatakan bahwa nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti apa tidak berarti. Dalam rumusan lain, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu hal, apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, penting atau tidak penting, mulia ataukah hina. Sesuatu itu dapat berupa benda, orang, tindakan, pengalaman, dan seterusnya.
Prof. Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:
(1) Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia,
(2) Nilai vital, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas, dan
(3) Nilai kerohanian, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia: nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta), nilai keindahan, yakni yang bersumber pada unsur perasaan (estetika), nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa), dan nilai keagamaan (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.

Seorang individu mungkin memiliki nilai-nilai yang berbeda, bahkan bertentangan dengan individu-individu lain dalam masyarakatnya. Nilai yang dianut oleh seorang individu dan berbeda dengan nilai yang dianut oleh sebagaian besar anggota masyarakat dapat disebut sebagai nilai individual. Sedangkan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat disebut nilai sosial.

2. Norma sosial
Kalau nilai merupakan pandangan tentang baik-buruknya sesuatu, maka norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat  apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Norma dibangun di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Pelanggaran terhadap norma akan mendapatkan sanksi dari masyarakat.
Dilihat dari tingkat sanksi atau kekuatan mengikatnya terdapat macam-macam norma sosial,diantaranya :
1.      Tata cara atau usage. Tata cara (usage); merupakan norma dengan sanksi yang sangat ringat terhadap pelanggarnya, misalnya aturan memegang garpu atau sendok ketika makan, cara memegang gelas ketika minum. Pelanggaran atas norma ini hanya dinyatakan tidak sopan.
2.      Kebiasaan (folkways). Kebiasaan (folkways); merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang. Misalnya mengucapkan salam ketika bertemu, membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua, dst.
3.      Tata kelakuan (mores). Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama atau ideology yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut jahat. Contoh: larangan berzina, berjudi, minum minuman keras, penggunaan napza, mencuri, dst.
4.      Adat (customs). Adat merupakan  norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikat, apabila adat  menjadi tertulis ia menjadi hukum adat.
5.      Hukum (law). Hukum merupakan norma berupa aturan tertulis, ketentuan sanksi terhadap siapa saja yang melanggar dirumuskan secara tegas. Berbeda dengan norma-norma yang lain, pelaksanaan norma hukum didukung oleh adanya aparat, sehingga memungkinkan pelaksanaan yang tegas.

Di dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan ataupun tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat. Di wilayah perdesaan, sejak berbagai siaran dan tayangan telivisi swasta mulai dikenal, perlahan-lahan terlihat bahwa di dalam masyarakat itu mulai terjadi pergesaran nilai, misalnya tentang kesopanan. Tayangan-tayangan yang didominasi oleh sinetron-sinetron mutakhir yang acapkali memperlihatkan artis-artis yang berpakaian relatif terbuka, sedikit banyak menyebabkan batas-batas toleransi masyarakat menjadi semakin longgar. Berbagai kalangan semakin permisif terhadap kaum remaja yang pada mulanya berpakaian normal, menjadi ikut latah berpakaian minim dan terkesan makin berani. Model rambut panjang kehitaman yang dulu menjadi kebanggaan gadis-gadis desa, mungkin sekarang telah dianggap sebagai simbol ketertinggalan. Sebagai gantinya, yang sekarang dianggap trendy dan sesuai dengan konteks zaman sekarang (modern) adalah model rambut pendek dengan warna pirang atau kocoklat-coklatan.  Jadi berubahnya nilai akan berpengaruh terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

D. Pemahaman Seorang Konselor Terhadap Nilai Norma Sosial
Mengacu pada landasan sosial budaya yang terdapat pada layanan bimbingan konseling, konselor seharusnya memahami arti penting akan nilai dan norma sosial yang terkandung dalam sebuah kebudayaan. Kita dilahirkan memiliki kebudayaan, dan kebudayaan setiap orang tidak semuanya sama. MC Daniel memandang setiap anak, sejak lahirnya harus memenuhi tidak hanya tuntutan biologisnya, tetapi juga tuntutan budaya ditempat ia hidup, tuntutan budaya itu menghendaki agar ia mengembangkan tingkah lakunya sehingga sesuai dengan pola-pola yang dapat diterima dalam budaya tersebut. Jadi, bimbingan konseling harus mempertimbangkan aspek sosial budaya dalam pelayanannya agar menghasilkan pelayanan yang lebih efektif. Karena perbedaan dalam latar belakang ras atau etnik, kelas sosial ekonomi dan pola bahasa dapat menimbulkan masalah dalam hubungan konseling.
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial- budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu :
(a) perbedaan bahasa;
(b) komunikasi non-verbal;
(c) stereotipe;
(d) kecenderungan menilai; dan
(e) kecemasan.
Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yang berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan budaya diartikan sebagai suatu usaha secara sadar dan sistematis untuk menegmbangkan potensi/kemampuan peserta didik dalam keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.
Untuk itu sekolah atau seluruh warga sekolah diharapkan menerapkan kebudayaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Itulah yang menjadi norma bagi setiap murid dan guru. Norma ini nyata dalam interaksi guru dan murid, dalam peraturan-peraturan sekolah, dalam tindakan dan hukuman terhadap pelanggaran, juga dalam berbagai kegiatan seperti upacara-upacara.
Sementara konselor menjadikan kebudayaan sebagai landasan/acuan dalam menjalankan layanan bimbingan konseling.

B. Saran
Demikian makalah kami mengenai “Pemahaman Konselor Terhadap Pendidikan, Sosial dan Budaya”. Semoga makalah yang kami buat ini bermanfaat bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, untuk itu kami mohon kritik dan saran yang dapat membangun kami. Sehingga pada makalah yang berikutnya bisa lebih baik dari sekarang. Akhir kata, kami ucapakan terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA


1. S, Nasution. Sosiologi Pendidikan. 1983. Bandung: Penerbit Jemmars.
2. Ramon, Sumarsi. Sosiologi dan Antropologi. 1985. Surabaya: Sinar Wijaya.
4. http://agsasman3yk.wordpress.com/2009/09/01/nilai-dan-norma-sosial/

Template by:

Free Blog Templates